Sistem ini yang Membuat Kita Sakit

Pernyataan Sekretariat IWA dalam Menanggapi Situasi Pandemi COVID-19

Di banyak negara, kini orang-orang dihadapkan dengan masalah kesehatan.yang sangat besar. Karena sifat sistem kapitalis dan penyalahgunaannya terhadap para kelas pekerja, banyak dari kita yang mungkin menjadi korban kelalaian dan penghinaan oleh kelas yang berkuasa – penyakit yang telah menimpa masyarakat kita dan hubungan sosial-ekonomi kita. Dalam situasi seperti ini, kita benar-benar harus saling bergantung demi menjaga kesehatan dan hidup kita.

Seksi-seksi International Workers’ Association telah menanggapi situasi lokal mereka dengan cara yang berbeda-beda. Sebagai pendukung pemogokan umum untuk melemahkan kekuatan mereka yang menindas dan menyiksa kita, kami melihat inilah waktu yang tepat bagi kelas pekerja di negara-negara tertentu untuk menggunakan alat perjuangan ini, untuk membela diri, untuk melindungi kesehatan mereka dan mempromosikan kekuatan aksi bersama melawan kuasa negara.

Serikat kami telah mengajukan beberapa tuntutan dan seruan untuk bertindak di tingkat lokal dan terlibat dalam beberapa perjuangan nyata di sejumlah tempat kerja. Di tingkat global, ada beberapa tuntutan yang perlu diperbanyak sebagai tanggapan terhadap pandemi saat ini.

1.      Semua pekerja yang telah dipaksa mengundurkan diri dari pekerjaan karena tindakan yang diambil oleh pemerintah atas keputusan bos, pengurangan ekonomik atau yang sedang sakit atau alasan lain berhak menerima upah cuti

Sebagian kelas pekerja di seluruh dunia nyaris tidak memenuhi dan tidak mampu untuk kehilangan penghasilan mereka. Mereka terancam menjadi korban lagi – korban tuan tanah dan kreditor. Beberapa pemerintah telah mengumumkan paket bantuan untuk bisnis, tetapi para elit jauh lebih murah hati kepada orang-orang yang bekerja.

Setelah pandemi mereda, kelas pekerja harus berjuang menjadikan upah cuti sebagai hak permanen bagi semua orang.

2.      Kami menganjurkan libur kerja segera (dengan upah cuti) untuk semua pekerja industri dan jasa di semua bidang yang terancam oleh penyebaran virus ini. Di mana para bos atau negara mengancam dan memaksa orang untuk terus bekerja terlepas dari risikonya, kami menyerukan kepada organisasi pemogokan, solidaritas, dan macam-macam bentuk aksi langsung lainnya. Kami membutuhkan solidaritas dan dukungan bersama untuk menunjukkan bahwa kami tidak akan bisa dihentikan.

3.      Kami menuntut kenaikan upah segera untuk semua pekerja medis (termasuk personel « non-medis » lainnya di pusat-pusat medis, seperti petugas kebersihan). Kenaikan upah ini bersifat permanen. Salah satu masalah terbesar yang dihadapi banyak negara di dunia adalah kurangnya akses ke layanan kesehatan, yang disebabkan oleh kekurangan dana, karena pemerintah memutuskan untuk mengalihkan uang ke tempat lain, jauh dari kebutuhan manusia yang paling penting. Banyak pekerja medis yang diremehkan dan telah berjuang selama bertahun-tahun. Mereka dieksploitasi dan tidak dihargai setiap hari – namun kami mengharapkan dedikasi total mereka untuk menyelamatkan hidup orang lain dalam situasi seperti ini dan kadang-kadang berisiko besar bagi kesehatan dan kesejahteraan mereka sendiri. Kita harus berjuang untuk memaksa Negara – yang kita anggap sebagai penjaga sementara dari uang pajak kita – untuk menjamin keamanan dan kesehatan penduduk dengan menyesuaikan kembali prioritas sosial. Lebih lanjut, IWA mengingatkan kelas pekerja bahwa Negara telah mengambil alih kekuaatan rakyat untuk memutuskan sesuatu sendiri dan biasanya bertindak terutama untuk kepentingan modal. Kita harus merebut kembali kuasa untuk memperkenalkan sistem sosial dan egaliter yang benar-benar menjaga semua anggota masyarakat kita secara bersama.

4.      Kami menuntut pembayaran bonus segera untuk semua pekerja lain yang dibutuhkan dalam berbagai fungsi yang masih sangat penting untuk menjaga semuanya berjalan lancar – dari kasir supermarket hingga penyedia, produsen dan pemasok makanan, dari pekerja sosial hingga pekerja sanitasi. Siapa pun yang bekerja dalam risiko yang meningkat dan masih bekerja sementara yang lain tinggal di rumah mereka berhak atas bantuan dan dukungan kami. Bila memungkinkan, kami juga meminta orang lain untuk membantu orang-orang ini dengan pekerjaan mereka, untuk memberi mereka istirahat dan untuk berbagi beban. Jika pekerja semacam itu dipaksa untuk bekerja dalam banyak jam ekstra karena situasi tersebut, mereka harus diberikan cuti ekstra saat mereka stabil.

Kami perlu menekankan bahwa banyak dari kategori pekerja ini, yang tanpanya kehidupan itu sendiri hampir tidak mungkin terjadi di pusat-pusat kota (seperti petani dan pekerja lain dalam rantai pasokan makanan) adalah di antara pekerja dengan upah terburuk di banyak negara. Kita harus agitasi dan berjuang untuk melegalkan nilai tenaga kerja dan menghilangkan kontradiksi besar dari logika kapitalis, yang gagal untuk memberikan kompensasi yang memadai bagi sebagian besar tenaga kerja yang mereka anggap hanya sebagai bagian yang dapat diganti, bukan sebagai anggota vital dari komunitas manusia kita.

5.      Kami menuntut akses gratis ke layanan kesehatan bagi semua yang mungkin terkena dampak krisis saat ini. Kita harus menjaga permintaan ini sebagai bidang perjuangan permanen.

6.      Kami menuntut bantuan darurat khusus untuk semua orang yang tidak memiliki atap di atas kepala mereka atau yang hidup dalam kondisi sanitasi yang buruk. Secara umum, tunawisma, dan berbagai bentuk pemindahan yang tragis menyebabkan banyak kematian dan penyakit setiap tahun, di atas kesengsaraan. Ini adalah masalah proporsi besar di tingkat dunia. Ini harus ditangani, khususnya dengan bantuan masyarakat dan perjuangan permanen melawan kelas mereka yang memiliki modal yang mengambil keuntungan dari akses mereka ke dan kepemilikan pribadi. Dunia juga telah menanggapi dengan buruk berbagai krisis kemanusiaan yang disebabkan oleh perang dan bencana alam, membuat para korbannya dalam kondisi genting dan seringkali mengancam jiwa.

7.      Kami menuntut agar bahan pokok apa pun yang dibutuhkan oleh masyarakat disediakan, terutama jika orang tidak mampu membelinya. Uang pajak kita harus digunakan untuk memastikan bahwa bagian dari masyarakat yang rentan memiliki akses ke produk o bat-obatan higienis.



Ketujuh tuntutan ini adalah jumlah minimum yang perlu kita dorong, dan untuk membuat situasi sedikit lebih sehat pada akhirnya, kita perlu menekan untuk lebih banyak perlindungan sosial bagi masyarakat umum. Ini tidak boleh selalu menjadi hak istimewa para orang kaya.

Kelas pekerja akhirnya harus menyadari bahwa bukan negara atau bos yang membuat masyarakat tetap berjalan, tetapi para pekerja itu sendiri.

Pengeluaran yang kami tuntut, untuk memastikan berjalan dengan aman dan adil atau masyarakat secara keseluruhan, adalah uang pajak kita dan kita memiliki hak absolut untuk memutuskan masyarakat seperti apa yang ingin kita tinggali: masyarakat yang merawat orang tua, sakit, orang-orang yang kurang beruntung atau yang peduli untuk semua orang dan memperlakukan semua orang sebagai hal yang penting dan dengan rasa hormat. Negara, para bos dan yang lainnya yang hidup dari buruh atau pekerja tidak boleh diizinkan untuk menjalankan hal-hal seperti yang mereka miliki lagi. Terlalu banyak orang yang menjadi sakit oleh ini semua dan itu telah berlangsung bertahun-tahun. Cukup sudah!

Sistemnya sakit dan kita perlu menyembuhkannya.

Obat terbaik melawan penyakit yang menghancurkan populasi kita – dan kita tidak berbicara tentang Coronavirus sekarang – adalah bergotong royong dan bersolidaritas antar manusia.

Selama masa ini ketika banyak orang terpengaruh, kami telah menyaksikan berbagai aksi solidaritas yang dimulai dari bawah ke atas, kadang-kadang sangat diperlukan di mana sistem gagal melindungi anggota masyarakat kita yang rentan. Kami menyerukan kepada orang-orang untuk merangkul solidaritas dan menjadikannya bagian dari kehidupan mereka, tidak hanya pada saat-saat tragedi, tetapi juga sebagai sesuatu yang lumrah. Solidaritas membangun komunitas dan komunitas adalah sesuatu yang dapat membantu setiap perjuangan sosial untuk mendapatkan manfaat bagi semua orang.

Dari IWA, kami berharap semua kesehatan, keselamatan, dan kekuatan untuk para kelas pekerja dalam perjuangan dan tantangan yang mungkin Anda hadapi saat ini. Ingatlah bahwa solidaritas adalah senjata kita, senjata yang sangat berguna di saat-saat seperti ini. Kita semua perlu berorganisasi – tidak hanya untuk saat ini, tetapi untuk memperjuangkan dunia yang lebih baik bagi kita semua di masa mendatang.

Anarchist Union of Iran and Afghanistan Menyerukan Perjuangan Bersenjata pada Revolusi Iran

*Anarchist Union of Iran and Afghanistan Menyerukan Perjuangan Bersenjata pada Revolusi Iran*
.
Anarchist Union of Iran and Afghanistan siap bekerjasama dengan kelompok oposisi bersenjata lainnya.
.
Anarchist Union of Iran and Afghanistan percaya bahwa rezim Republik Islam Iran tidak akan ragu untuk membantai orang-orang Iran seperti yang sudah dilakukan direzim Suriah dan Irak, serta Iran dalam beberapa hari ini (tercatat sudah lebih dari 100 orang terbunuh dalam demonstrasi), oleh sebab itu Anarchist Union of Iran and Afghanistan menyatakan siap bekerjasama dengan semua kelompok oposisi bersenjata dari Kurdi, Arab, dan Baloch. Sehubungan dengan makin meluasnya penindasan terhadap masyarakat Iran, kita harus dapat memberi mereka alat yang tepat untuk membela diri, sebelum ada lebih banyak orang mati dan gerakan rakyat ditekan secara permanen. Karena itu kebutuhan untuk membentuk sebuah front revolusioner bersenjata untuk mendukung dan membela rakyat dari para algojo rezim Islam sangat mendesak dan perlu. Jika mungkin untuk mengangkut senjata ke orang-orang di Iran, Anda seharusnya tidak ragu sejenak untuk mencegah lebih banyak orang berdarah dan dikuburkan. Tugas oposisi revolusioner dan radikal di luar Iran adalah untuk memberikan dukungan logistik dan strategis untuk perjuangan dan perlawanan orang-orang di dalam Iran.

*Anarchist Union of Iran and Afghanistan Menyerukan Perjuangan Bersenjata pada Revolusi Iran*
.
Anarchist Union of Iran and Afghanistan siap bekerjasama dengan kelompok oposisi bersenjata lainnya.
.
Anarchist Union of Iran and Afghanistan percaya bahwa rezim Republik Islam Iran tidak akan ragu untuk membantai orang-orang Iran seperti yang sudah dilakukan direzim Suriah dan Irak, serta Iran dalam beberapa hari ini (tercatat sudah lebih dari 100 orang terbunuh dalam demonstrasi), oleh sebab itu Anarchist Union of Iran and Afghanistan menyatakan siap bekerjasama dengan semua kelompok oposisi bersenjata dari Kurdi, Arab, dan Baloch. Sehubungan dengan makin meluasnya penindasan terhadap masyarakat Iran, kita harus dapat memberi mereka alat yang tepat untuk membela diri, sebelum ada lebih banyak orang mati dan gerakan rakyat ditekan secara permanen. Karena itu kebutuhan untuk membentuk sebuah front revolusioner bersenjata untuk mendukung dan membela rakyat dari para algojo rezim Islam sangat mendesak dan perlu. Jika mungkin untuk mengangkut senjata ke orang-orang di Iran, Anda seharusnya tidak ragu sejenak untuk mencegah lebih banyak orang berdarah dan dikuburkan. Tugas oposisi revolusioner dan radikal di luar Iran adalah untuk memberikan dukungan logistik dan strategis untuk perjuangan dan perlawanan orang-orang di dalam Iran.
.
Anarchist Union of Iran and Afghanistan
.
.
*Apa yang terjadi di Iran sekarang*
.
Situasi di Iran sangat kritis
.
Rakyat menginginkan revolusi dan di Republik Islam perang telah dimulai
.
Kami memiliki perang di jalan-jalan kami
.
Mereka menembak orang-orang dari helikopter dan membawa tank ke beberapa kota
.
Mereka menggunakan Ambulans untuk memindahkan pasukan pembunuh mereka di universitas dan penembak jitu menembak orang-orang dari atap gedung-gedung tinggi
.
Pada pekan lalu antara 300 dan 500 orang terbunuh di jalanan
.
Protes terjadi di lebih dari 130 kota dari Utara ke Selatan dan Timur ke Barat
.
Para pengunjuk rasa adalah pekerja, pelajar, tunawisma dan orang miskin lainnya di Iran. Ini adalah perang kelas
.
Lima petugas polisi terbunuh tetapi dengan tangan kosong sulit untuk melawan tentara
.
Masyarakat kami membutuhkan senjata untuk membela diri
.
Ini adalah perang antara masyarakat dengan tangan kosong dan pasukan bersenjata
.
Rezim ini akan tumbang, jika kami dapat membela diri, saat ini kami memiliki revolusi dan jika mereka tidak mendapatkan senjata, kami yakin esok hari adalah yang terakhir karena orang membutuhkan senjata melawan rezim
.
Jadi kami katakan waktu saat ini atau waktu berikutnya dan kami menduga bahwa waktu berikutnya akan terjadi dalam waktu kurang dari 2 tahun

[Terjemahan] Wawancara dengan Persatuan Anarkis Iran dan Afghanistan

AMW mewawancarai kawan-kawan dari Persatuan Anarkis Iran dan Afghanistan (Asranarshisme) tentang potensi perang antara Iran dan Amerika Serikat serta membangun solidaritas internasional dengan kaum anarkis di seluruh dunia

AMW mewawancarai kawan-kawan dari Persatuan Anarkis Iran dan Afghanistan (Asranarshisme) tentang potensi perang antara Iran dan Amerika Serikat serta membangun solidaritas internasional dengan kaum anarkis di seluruh dunia

Sebagai kaum anarkis, apa analisis Kalian tentang ancaman perang yang terjadi antara AS dan negara Iran

Hari ini, saat kami menulis tanggapan ini, sebuah drone milik Amerika menjadi sasaran Republik Islam. Jadi, sekarang sangat sulit bagi kami—kaum anarkis, untuk memberikan analisis yang seragam. Kami hanya dapat memprediksi apa yang akan terjadi karena kami tidak dapat mengamati komunikasi di belakang layar antar-negara dan isu lainnya. Hanya hipotesis berbeda yang dapat dipertimbangkan dan dinilai di sini. Pertanyaan Anda terfokus pada kami sebagai kaum anarkis mengenai analisis atas ancaman perang antara kedua negara? Pertama-tama harus dikatakan, secara alami, kaum anarkis menentang perang antar negara, tetapi bagaimana oposisi  ini memengaruhi perang antar negara adalah diskusi lain. Kami akan selalu tetap anti perang. Perang antar negara adalah untuk melayani negara dan kapitalisme. Rakyat Iran harus berusaha untuk mengakhiri perang dan konflik yang mematikan ini, milisi negara, para infanteri yang tidak dapat berperang dan harus memiliki jalur independen sendiri. Harus dikatakan bahwa sebagian besar rakyat Iran sedang menunggu Republik Islam melemah sehingga mereka dapat membubarkan kediktatoran dan teokrasi yang memerintah Iran—dan kita para anarkis akan bersama rakyat, di jalan-jalan dan  kami akan melakukan apa pun yang kami dapat lakukan untuk revolusi dan jatuhnya Republik Islam. Orang-orang di Iran telah mengalami perang selama delapan tahun yang menghancurkan Iran dan Irak; namun beberapa orang di Iran enggan untuk mengakhiri Republik Islam setelah empat puluh tahun kekejamannya. Sayangnya, mereka telah menyetujui perang AS melawan negara Iran dan melihatnya sebagai cara termudah untuk memecahkan Republik Islam yang jahat itu. Meskipun mereka tahu perang akan menghancurkan semua infrastruktur, mereka mengatakan bahwa empat puluh tahun terakhir dari pemerintahan Republik Islam tidak kurang dari perang tersebut; menjarah kekayaan negara, menghancurkan lingkungan, danau, dan lahan basah, membawa rakyat Iran ke dalam  kemiskinan, kesengsaraan, mengeksekusi lebih dari seratus ribu orang, dan mengusir delapan juta orang, membuat mereka terlunda-lunta di seluruh dunia

Kalian telah mengkritik pembelaan rezim Iran oleh sejumlah orang-orang kiri Barat yang menyebutnya “anti-imperialis.” Bagaimana kaum revolusioner dapat secara efektif menentang fasisme negara Iran dan intervensi imperialis

Sasaran kritik absolutis dan kritik anti-imperialisme yang berorientasi pada negara hanyalah mengarah pada imperialisme Amerika. Akan tetapi, kami lebih terbuka terhadap hal ini daripada beberapa yang disebut sebagai anarkis atau komunis seperti Noam Chomsky atau Slavoj Zizek yang  membela Republik Islam Iran. Diamnya para intelektual ini tentang kejahatan Republik Islam yang menindas rakyat Iran dan penumpasan kaum anarkis, Republik Islam juga menentang para  imigran, terutama imigran Afghanistan—yang kehilangan hak-hak asasi manusia mereka dan telah dibantai dalam perang Suriah untuk janji tinggal sementara di Iran—penindasan terhadap perempuan, pekerja, dan siswa. Faktanya, Chomsky dan sejenisnya hanya diam tentang Republik Islam karena mereka adalah negara yang tampaknya menentang imperialisme Amerika dan jika mereka dihadapkan dengan pilihan antara pemerintah yang berkuasa Iran dan rakyat Iran, mereka akan memilih kekuasaan. Ini adalah tragedi, karena kekuasaan dan otoritas yang telah mengkristal di pemerintahan Iran telah menaklukkan dan membuat mereka terpesona, dan nasib rakyat Iran tidak menjadi masalah bagi mereka—dan bukannya selalu menentang kekuasaan dan membela kebebasan individu serta kebebasan kolektif, mereka malah terpesona oleh kekuasaan dan melupakan kebebasan serta menentang dominasi pemerintah Iran. Sebaliknya, mereka malah memeriksa kontradiksi utama ini melalui teori Marxis, dan bukannya atas dasar kebebasan dan libertarianisme anarkis

Gerakan dan tokoh revolusioner historis apa yang secara khusus menginspirasi atau relevan untuk gerakan Kalian hari ini di Iran dan Afghanistan


Kegagalan komunisme negara secara global di satu sisi dan kegagalan perkembangan politik yang gagal di Iran dan Afghanistan di sisi lain, menyebabkan kaum muda tertarik pada alternatif liberal dan libertarian yang baru bagi mereka. Internet, seniman anarkis dan aktivis anarkis di luar negeri telah membantu dalam proses ini. Karena kami adalah militan anarkis, gerakan individu, dan revolusioner yang dekat dengan kecenderungan kami adalah yang  paling relevan bagi kami. Akan tetapi, jika kami ingin menyebutkan beberapa dari mereka, kami akan memasukkan Komune Paris tahun 1871; Perang Saudara Spanyol; pekerja anarkis Chicago; Kronstadt; Tentara Hitam dan Nestor Makhno; Emiliano Zapata; Dorothy Day, AANES (Otonomi Administrasi Suriah Utara dan Timur) dan Abdullah Öcalan; Chiapas Zapatista; para anarkis Jepang; Bakunin; Emma Goldman; Louise Michel; dan Camillo Berneri

Karena laman Kalian telah menerbitkan artikel tentang kematian Lorenzo Orsetti dan penindasan kaum anarkis Indonesia pada Hari Buruh  lalu, apakah Kalian ingin mengomentari dua momen penting ini bagi gerakan anarkis secara internasional

Sejauh ini, lebih dari lima ratus pejuang internasional telah gugur di Suriah berperang untuk AANES dan sebagian besar dalam perang melawan ISIL. Banyak dari mereka adalah sesama anarkis internasional dan Lorenzo Orsetti adalah salah satunya. Kami selalu berusaha mengidentifikasi para pejuang internasional yang merupakan anarkis, yang memperjuangkan cita-cita kami. Untuk memperingati mereka yaitu dengan memperkenalkan mereka kepada kawan-kawan kami dan kami menekankan bahwa anarkis adalah idealis tanpa pretensi; mereka sebagian besar anonim dan hanya disebut sebagai Pejuang Internasional, dan platform arus utama menggunakannya untuk menyembunyikan anarkisme sehingga mereka tidak menyebarkan anarkis secara tidak sengaja. Tentu saja anarkis yang gugur tidak peduli karena mereka tidak memperjuangkan kekuasaan atau ketenaran, tetapi untuk mengambil tindakan revolusioner. Seperti yang Anda sebutkan kawan-kawan, pejuang anarkis di Rojava dan kemunculan anarkis di Indonesia adalah dua momen sejarah yang penting, dan sangat penting untuk mencatat momen bersejarah ini dan menjadi tanggung jawab kami untuk menyoroti mereka. Kami menekankan sifat revolusioner kaum anarkis dengan menyerukan perhatian pada  kawan-kawan yang gugur dan mendorong kawan-kawan yang masih muda kami untuk meradikalisasikannya

Adakah perkembangan baru situasi tahanan anarkis Soheil Arabi

Tahanan anarkis Soheil Arabi dipenjara di Bangsal 1, Aula 9 di Greater Tehran Prison dan saat ini menjalani hukuman 11 tahun penjara. Dia melakukan mogok makan untuk memprotes kondisi mengerikan di penjara yang meliputi: tindakan kekerasan oleh otoritas penjara; penyebaran penggunaan narkoba di antara tahanan; kurangnya pemeliharaan dan penyediaan di dalam penjara; pengakuan yang dipaksakan dengan pukulan  tongkat; tidak memisahkan tahanan satu dengan yang lain; tidak adanya akomodasi dan fasilitas sanitasi yang memadai; penolakan hak untuk berobat; dan  penuh kutu rambut dan kutu busuk. Mogok makan terjadi karena otoritas penjara mengabaikan permintaan berulang Soheil untuk memperbaiki kondisi penjara. Saat  melakukan mogok makan, Soheil Arabi dipindahkan ke apotik di Greater Tehran Prison pada 20 Juni 2019 setelah kesehatannya semakin memburuk. Farangis Mazloum, ibu pemberani Soheil Arabi, ditangkap di Teheran, di rumahnya pada Senin, 22 Juli 2019 oleh delapan anggota pasukan keamanan. Dia telah dipindahkan ke lokasi yang tidak diketahui. Kamerad anarkis Soheil Arabi seharusnya dibebaskan tahun lalu, tetapi ia diadili lagi tahun lalu pada bulan Oktober dan dijatuhi hukuman 3 tahun lagi. Setelah terakhir kali dia disiksa dan dipukuli, dia tidak dikirim ke rumah sakit meskipun cedera pangkal paha dan hidung patah. Baru-baru ini, seorang tahanan politik berusia 21 tahun bernama Alireza Shir Mohammad Ali, secara sengaja dibunuh oleh dua tahanan lain dengan pisau di penjara yang sama—ini adalah salah satu metode yang digunakan negara Iran untuk secara fisik menghilangkan tahanan politik. Kami khawatir tentang Soheil karena tidak ada keamanan di penjara-penjara Republik Islam. Tentu saja, selain Soheil, ada beberapa tahanan anarkis di penjara Iran. Pada 1 Mei 2019, lima puluh peserta pada demonstrasi Hari Buruh, termasuk aktivis perempuan Neda Naji, Marzieh Amiri, Anisha Asadollahi, dan Atefeh Rangriz yang ditangkap dan ditahan oleh pasukan keamanan dan belum dibebaskan. Ada yang lain yang tidak bisa kami sebutkan karena alasan keamanan

Apa saja cara yang Kalian telah lakukan untuk mengorganisir di komunitas Kalian

Kaum anarkis di Iran dan Afghanistan memiliki kegiatan klandestin yang tidak dapat dibagikan secara eksternal, karena kondisi keamanan yang sangat berbahaya, sehingga polisi rahasia di Iran tidak tahu bagaimana memerangi organisasi-organisasi anarkis dan tidak tahu di mana kami beroperasi. Jika kami membuat pengorganisasian, kampanye, dan area aktivitas kami terang-terangan, maka negara Iran akan memfokuskan lembaga keamanan mereka pada kami dan menciptakan perangkap keamanan. Setelah protes sepuluh hari dilebih dari seratus kota di Iran dimulai pada 28 Desember 2017, badan-badan keamanan menyadari bahwa masyarakat berorganisasi tanpa kepemimpinan dan sebagai akibatnya, sangat berisiko. Tentu saja, ketika kami memulai kegiatan kami sepuluh tahun yang  lalu, lembaga keamanan berada dalam risiko karena sejak 1979, mereka telah mampu menekan semua oposisi di Iran dan menumpasnya di depan  mata rakyat. Selama tiga dekade penindasan, mudah untuk membayangkan bahwa tidak ada politik yang menarik bagi kaum muda dan perempuan—mereka  merasa nyaman dengan struktur, partai, dan arus politik. Rezim pun terkejut dengan munculnya arus politik baru dan segar, yang di satu sisi, disambut oleh kaum muda, perempuan dan pekerja, dan di sisi lain, rezim itu sendiri tidak memiliki pengetahuan tentang pemikiran politik baru ini, yang utamanya adalah para aktivis, dan bagaimana penyebarannya. Karena alasan ini, kami dan aktivis politik lainnya mengajukan pertanyaan: Apa yang akan dilakukan rezim untuk melawan penyebaran anarkisme melalui masyarakat? Dan metode penindasan apa yang akan mereka gunakan untuk menindas kaum anarkis?Sampai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini terungkap sejalannya waktu, agen keamanan menentang kami dengan menggunakan fasilitas propaganda dan internet mereka. Mereka menciptakan faksi virtual dan memerintahkan mereka untuk membuat organisasi paralel. Dengan menciptakan gerakan politik palsu yang disebut “anarkisme”, ia menghancurkan gerakan anarkis dan mendorong remaja dan orang muda ke arah yang diinginkan negara

Masalah apa yang Kalian lihat menyebar di Iran dan Afghanistan yang akan membuat orang  lebih responsif dan tertarik pada anarkisme

Di Iran dan Afghanistan, kasus-kasus seperti patriarki; agama; kebebasan individu yang terbatas; kurangnya keadilan sosial; keruntuhan ekologis dan punahnya banyak spesies hewan dan tumbuhan; teokrasi di Iran; dan kurangnya alternatif, oposisi revolusioner di Iran dan Afghanistan. Anarkisme menarik karena libertarianisme anarkis dan penekanannya pada pentingnya kebebasan individu dan sekuler serta radikalisasi; pentingnya hak-hak perempuan; perlindungan hewan dan lingkungan;oposisi terhadap semua hierarki; dan oposisi terhadap otoritas yang semuanya penting bagi masyarakat Iran dan sangat menarik perhatian orang

Bagaimana kaum anarkis di bagian lain dunia ikut dalam solidaritas dengan gerakan di Iran dan Afghanistan

Dapat dikatakan bahwa sejauh ini kaum anarkis di bagian lain dunia telah mendukung gerakan anarkis di Iran dan Afghanistan dengan sangat baik, dan berbagi perjuangan kami melalui wawancara dan terjemahan wawancara sukarela di situs web mereka sendiri dalam berbagai bahasa. Kawan-kawan anarkis kami mendukung Soheil Arabi dan tindakan lain yang tidak dapat kami sebutkan karena alasan keamanan. Karena kami semua adalah kaum anarkis, kami memiliki minat yang mendalam pada gerakan anarkis global, jangkauan perjuangan kami luas dan semua kaum anarkis menghadapi banyak perjuangan anarkis; mereka melakukan sebanyak yang  mereka bisa untuk gerakan anarkis di Iran dan Afghanistan. Bagaimanapun, perjuangan terus berlanjut dan semua jenis dukungan anarkis dari gerakan anarkis internasional akan terus berlanjut

Dalam jangka panjang, bagaimana menurut Kalian kaum anarkis dapat membangun koneksi yang lebih kuat secara internasional untuk mendukung gerakan revolusioner dengan cara yang tidak hanya reaktif terhadap krisis atau penindasan

Sekarang gerakan kiri dan gerakan komunis menghadapi krisis. Mereka tidak memiliki kehadiran yang kuat di tingkat internasional atau dalam perjuangan internasional. Mereka sebagian besar kehilangan karakter revolusioner dan militan mereka. Dan bahkan, kiri parlementer menghadapi krisis, sama halnya juga kaum liberal menghadapi krisis. Akan tetapi, kaum anarkis tidak menghadapi situasi ini dan mereka belum kehilangan karakter revolusioner mereka dan masih pragmatis. Di mana saja, di dunia yang memiliki gerakan terkecil, seluruh gerakan anarkis internasional berfokus padanya dan berdiri seperti di Suriah, tempat beberapa ratus anarkis internasional gugur dalam perang melawan ISIS bersama SDF. Ya, kami juga berpikir bahwa dalam jangka panjang kaum anarkis dapat menciptakan ikatan internasional yang lebih kuat untuk mendukung gerakan revolusioner di luar negeri. Mereka seharusnya tidak hanya terlibat dalam perjuangan sehari-hari dan harus menarik banyak kecenderungan dan gerakan politik populer lainnya, seperti yang kami lakukan. Ini adalah sifat revolusioner dan jujur ​​juga dari kaum anarkis: pragmatisme dan pentingnya mereka ikut dalam perjuangan internasional memberikan landasan bagi dukungan praktis dari gerakan revolusioner. Poin penting berikutnya adalah bahwa kaum anarkis dari berbagai belahan dunia berkomunikasi satu sama lain melalui situs web dan email mereka untuk berbagi berita tentang satu sama lain, yang berarti mereka memiliki pandangan dunia politik yang benar dan lebih luas, dan bahwa mereka cepat mempelajari masalah dan terus berjuang, sehingga mereka dapat dengan cepat mendukung rekan internasional mereka

Menuju Barikade ! (A las Barricadas ! To the barricades !)

« A las Barricadas » (« Menuju Barikade ») adalah salah satu lagu yang paling populer bagi golongan anarkis di Spanyol selama Perang Saudara Spanyol. « A las Barricadas » dinyanyikan menggunakan nada lagu Warszawianka, yang disusun oleh Józef Pławiński. Lirik lagu ini ditulis oleh Valeriano Orobón Fernández pada tahun 1936, di mana sebagian dari lirik lagu ini didasarkan pada lirik asli lagu Warszawianka berbahasa polandia yang ditulis oleh Wacław Święcicki.

Yang dimaksud dengan « Konfederasi » pada bait akhir dalam lagu ini adalah organisasi beraliran anarko-syndicalist CNT (Confederación Nacional del Trabajo — « Konfederasi Serikat Buruh Nasional »), yang pada saat itu adalah yang serikat buruh dan organisasi berideologi anarkis terbesar di Spanyol, dan menjadi salah satu kekuatan besar melawan kudeta militer yang didalangi oleh Francisco Franco terhadap Republik Spanyol dari 1936-1939.

« A las Barricadas » (« Menuju Barikade ») adalah salah satu lagu yang paling populer bagi golongan anarkis di Spanyol selama Perang Saudara Spanyol. « A las Barricadas » dinyanyikan menggunakan nada lagu Warszawianka, yang disusun oleh Józef Pławiński. Lirik lagu ini ditulis oleh Valeriano Orobón Fernández pada tahun 1936, di mana sebagian dari lirik lagu ini didasarkan pada lirik asli lagu Warszawianka berbahasa polandia yang ditulis oleh Wacław Święcicki.

Yang dimaksud dengan « Konfederasi » pada bait akhir dalam lagu ini adalah organisasi beraliran anarko-syndicalist CNT (Confederación Nacional del Trabajo — « Konfederasi Serikat Buruh Nasional »), yang pada saat itu adalah yang serikat buruh dan organisasi berideologi anarkis terbesar di Spanyol, dan menjadi salah satu kekuatan besar melawan kudeta militer yang didalangi oleh Francisco Franco terhadap Republik Spanyol dari 1936-1939.

Lirik asli dalam Bahasa SpanyolTerjemahan dalam Bahasa Indonesia
Negras tormentas agitan los aires
nubes oscuras nos impiden ver. Aunque nos espere el dolor y la muerte
contra el enemigo nos llama el deber.

El bien más preciado es la libertad
hay que defenderla con fe y valor.

Alza la bandera revolucionaria
que del triunfo sin cesar nos lleva en pos. Alza la bandera revolucionaria
que del triunfo sin cesar nos lleva en pos.

Negras tormentas agitan los aires
nubes oscuras nos impiden ver.
Aunque nos espere el dolor y la muerte
contra el enemigo nos llama el deber.

El bien más preciado es la libertad
hay que defenderla con fe y valor.

Alza la bandera revolucionaria
que del triunfo sin cesar nos lleva en pos.
Alza la bandera revolucionaria
que del triunfo sin cesar nos lleva en pos.

En pie el pueblo obrero, a la batalla
hay que derrocar a la reacción.

¡A las barricadas! ¡A las barricadas!
por el triunfo de la Confederación.
¡A las barricadas! ¡A las barricadas!
por el triunfo de la Confederación.
Badai hitam mengguncang langit
Awan gelap membutakan kita Meskipun rasa sakit dan kematian menanti kita
Tugas memanggil kita ‘tuk melawan musuh

Karena hal yang paling berharga adalah kebebasan
Harus dipertahankan dengan yakin dan berani

Kibarkan bendera revolusioner
Yang membawa kita tak henti-hentinya menuju kemenangan
Kibarkan bendera revolusioner
Yang membawa kita tak henti-hentinya menuju kemenangan

Badai hitam mengguncang langit
Awan gelap membutakan kita
Meskipun rasa sakit dan kematian menanti kita
Tugas memanggil kita ‘tuk melawan musuh

Karena hal yang paling berharga adalah kebebasan
Harus dipertahankan dengan yakin dan berani

Kibarkan bendera revolusioner
Yang membawa kita tak henti-hentinya menuju kemenangan
Kibarkan bendera revolusioner
Yang membawa kita tak henti-hentinya menuju kemenangan

Bangun, kaum buruh, menuju pertempuran
untuk menggulingkan reaksioner

Menuju Barikade! Menuju Barikade!
Untuk kemenangan Konfederasi
Menuju Barikade! Menuju Barikade!
Untuk kemenangan Konfederasi

PPAS – ASOSIASI TERBUKA UNTUK PEKERJA RESTORAN

Beberapa individu pekerja restoran di PPAS sedang bersiap2 untuk membuat section baru. Apakah kamu juga pekerja resto?

Saat ini seksi pekerja resto ada di Sidoarjo, Surabaya dan Jabodetabek.

Beberapa individu pekerja restoran di PPAS sedang bersiap2 untuk membuat section baru. Apakah kamu juga pekerja resto?

Saat ini seksi pekerja resto ada di Sidoarjo, Surabaya dan Jabodetabek.

Beberapa individu pekerja restoran di PPAS sedang bersiap2 untuk membuat section baru. Apakah kamu juga pekerja resto?

Saat ini seksi pekerja resto ada di Sidoarjo, Surabaya dan Jabodetabek.

– Apakah kamu ada di wilayah tsb? Jika tidak kamu juga bisa membuat afiliasi di regionalmu. Silahkan dm langsung ke kami.

– Mengapa pekerja resto perlu berasosiasi mandiri?

– Sebab permasalahan fundamental seperti gaji tdk sesuai ump, jam kerja berlebihan, tdk ada uang lembur, tdk ada safety wear selama ini menjadi beban yg sangat berat bagi seluruh pekerja resto di Indonesia.

– Selain daripada itu, tidak semua resto memiliki serikat pekerja. Sehingga banyak pekerja yg kebingungan dlm pemenuhan haknya di tempat kerja. .

Asosiasi pekerja restoran berdiri untuk bisa bersama2 secara kolektif menyiasati problem2 unik yg dialami sesama pekerja.


Buat info nya silahken tanya langsung kepada Persaudaraan Pekerja Anarko Sindikalis – PPAS

Telegram : https://t.me/SPRestoran

===========

PPAS : Serikat tanpa hierarki.

Yakin tanpa hierarki ??? Iya, kan afiliasi nya ama Persaudaraan Pekerja Anarko Sindikalis – PPAS !

ANARKISME DI INDONESIA

Anarkisme di Indonesia
Diterjemahkan oleh Jojoz Kurohota dari tulisan berjudul “Anarchism in Indonesia” yang terbit pertama kali di libcom.org.

Jaringan Anti-Otoritarian, May Day 2007

GERAKAN SAYAP KIRI di Hindia Belanda dengan jelas muncul lewat pengaruh dari para Sosial Demokrat dan Sosialis Belanda. Tetapi hanya sedikit gagasan tentang Anarkis yang diketahui.[1] Walau begitu salah satu yang pertama kali mengkritik sistem kolonialisme di Hindia Belanda adalah penulis-anarkis Edward Douwes Dekker, yang dikenal dengan nama samarannya yaitu ‘Multatuli’ (1820-1887). Ia bekerja pada tahun 1842-1856 di dalam pemerintahan kolonial Hindia Belanda, di situ ia berkenalan dengan kebrutalan kolonialisme dan membuat pidato, karya seni serta artikel yang menyerang, dan mencoba untuk membangkitkan opini publik melawan penjajah. Pada awal abad ke-20, teks-teks Multatuli memberi pengaruh signifikan pada pekerja Anarkis dan sindikalis di Belanda.[2]

Anarkisme di Indonesia

Diterjemahkan oleh Jojoz Kurohota dari tulisan berjudul “Anarchism in Indonesia” yang terbit pertama kali di libcom.org.

Jaringan Anti-Otoritarian, May Day 2007

GERAKAN SAYAP KIRI di Hindia Belanda dengan jelas muncul lewat pengaruh dari para Sosial Demokrat dan Sosialis Belanda. Tetapi hanya sedikit gagasan tentang Anarkis yang diketahui.[1] Walau begitu salah satu yang pertama kali mengkritik sistem kolonialisme di Hindia Belanda adalah penulis-anarkis Edward Douwes Dekker, yang dikenal dengan nama samarannya yaitu ‘Multatuli’ (1820-1887). Ia bekerja pada tahun 1842-1856 di dalam pemerintahan kolonial Hindia Belanda, di situ ia berkenalan dengan kebrutalan kolonialisme dan membuat pidato, karya seni serta artikel yang menyerang, dan mencoba untuk membangkitkan opini publik melawan penjajah. Pada awal abad ke-20, teks-teks Multatuli memberi pengaruh signifikan pada pekerja Anarkis dan sindikalis di Belanda.[2]

Cucu laki-laki Multatuli, Ernest François Eugène Douwes Dekker (1879 – 1950), campuran dari keluarga Eropa-Indonesia, menjadi salah satu pejuang gerakan anti-kolonial di Hindia Belanda. Selama perjalanannya ke Eropa pada tahun 1910-1911, ia menjalin kontak dengan pejuang gerakan radikal untuk pembebasan koloni, termasuk dengan Shyamaji Krishnavarma India, yang kemudian hari menggambarkannya sebagai “anarkis politik”, yang menjalankan taktik-taktik gerakan individual dan pembunuhan. Di majalah Het Tijdschrift yang diterbitkan oleh E.F.E. Douwes Dekker di Jawa sejak tahun 1911, artikel-artikel dari penulis kiri dan radikal asing diterbitkan, termasuk Krishnavarma dan anarkis India Har Dayal. Penerbit di dalam penekanan dirinya yang dia tulis, mengingatkan pembatasan hak pekerja di Eropa itu sendiri, dan dia tidak percaya bahwa demokrasi parlementer dapat berguna sebagai jalan menuju masyarakat yang ingin ia ciptakan. Dia mengisyaratkan kemungkinan untuk menggunakan metode kekerasan yang revolusioner, meskipun dia menambahkan bahwa jalur revolusioner yang diusulkan tidak selalu menggunakan metode kekerasan. Pada bulan Februari 1913, dia secara terbuka menulis bahwa perlawanan terhadap kolonialisme adalah tugas moral, karena tidak peduli seberapa “lunak” rezim kolonial, sistem ini selalu didasarkan pada ketidaksetaraan, ketidakadilan dan hak istimewa para penguasa, dan oleh karena itu mau tidak mau kolonialisme adalah bentuk dari despotisme dan tirani. Sebagai metode perjuangan, E.F.E Douwes Dekker menyebutkan demonstrasi, agitasi, revolusi, perlawanan pasif, pemogokan (terutama di bidang komunikasi dan transportasi), boikot dan pemberontakan. Dia menyambut baik gerakan revolusioner modern di berbagai negara yang ada di dunia dan, mendukung propagandis anarkis dan sosialis di Eropa, menyambut sabotase dan sindikalisme, mengutuk sosialisme reformis. Dia menyebut Yesus Kristus sebagai “seorang anarkis yang agung” dan pejuang bagi kebebasan.[3] Meskipun demikian, pada tahun 1912 Douwes Dekker mendirikan Indische Partij, tidak ada anarkisme dalam programnya, juga dalam aktivitas organisasi ini.

Tiga serangkai di Indonesia (Soewardi Soerjadiningrat, Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoema). Dok. Museum Kebangkitan Nasional

Serikat pekerja yang muncul di Hindia Belanda dari dekade pertama abad ke-20, dipengaruhi oleh kaum sosialis Marxis, yang pada bulan Mei 1914 membentuk Perhimpunan Sosial Demokrat Hindia (ISDV). Anggota perhimpunan tersebut juga bekerja secara aktif di ketentaraan kolonial dan angkatan laut, yang bergabung dalam serikat adalah anggota-anggota dari armada kapal Hindia Belanda yang memiliki pangkat rendah. Selama Perang Dunia Pertama –kelompok yang menyebut dirinya “Serikat Tentara dan Pelaut” (Union of Soldiers and Sailors), pada bulan November 1918 melakukan pemberontakan tentara dan angkatan laut di Surabaya, juga melakukan pembentukan Dewan Deputi Tentara dan Pelaut. Terlepas dari hegemoni Sosial-Demokrasi di dalam gerakan ini, ada pula referensi tentang pengaruh anarkis di dalamnya, meskipun tidak sepenuhnya jelas dari sumber tersebut, apakah mereka merupakan pendukung gagasan anarkis yang sadar, atau definisi ini hanya merujuk pada sentimen kata anarkis itu sendiri.

Ada tulisan laporan mengenai aksi-aksi yang dijalankan oleh pelaut -militer di Surabaya tersebut, aksi itu berlangsung pada tanggal 7 Mei 1916, disebabkan oleh ketidakpuasan perlakuan oleh atasan, gizi dan perawatan kesehatan yang buruk, juga kurangnya kebersihan serta kemarahan karena merasa tersiksa atas perang. Surat kabar lokal, Soerabaijasch Nieuwsblad menyebutkan bahwa: seorang “pelaut yang sangat muda dengan ide anarkis yang jelas” mencoba meyakinkan rekan-rekannya untuk tidak menghentikan pelanggaran hukum. Demonstrasi tersebut diadakan tanpa persetujuan pimpinan Serikat Pelaut dan berujung pada bentrokan dengan polisi. Selama baku tembak, 5 orang terluka. Kaum Sosial Demokrat hampir tidak berhasil menghentikan protes tersebut. Dalam gelombang represi berikutnya, salah satu pengorganisir gerakan tersebut dijatuhi hukuman 8 bulan penjara, dan disusul oleh pemecatan 47 pelaut lainnya.[4] Pimpinan Serikat Pekerja Belanda di jajaran bawah mengkritik cabangnya di Surabaya karena tidak dengan cepat menjauhkan diri dari aksi tersebut, dan pemimpin Partai Pekerja Sosial Demokratik Belanda, Pieter Jelles Troelstra, bergumam bahwa telah terjadi ‘hilang kendali’ atas kepemimpinannya di serikat pekerja, akibatnya, “unsur-unsur anarkis di antara personil mendapatkan kebebasan bertindak.”[5] Partai tersebut menyatakan untuk perlunya melawan “elemen-elemen anarkis” di dalam serikat tentara (Union of Soldiers).[6] Sementara komandan dari Royal Dutch East Indies Army, Van Rietschoten, menepis fakta bahwa militer bergabung dengan serikat pekerja dan asosiasi yang membuat “propaganda anarkis” tersebut.[7]

Karya-karya propaganda di Hindia Belanda dilakukan oleh banyak anarkis-kristen dan Tolstoysian yang mengorganisir Gerakan untuk Kehidupan Bersih di Belanda pada tahun 1901. Pada tanggal 1 Januari 1907, gerakan tersebut mulai menerbitkan Majalah Levenskracht dalam skala waktu bulanan, yang disunting oleh Dirk Lodewijk Willem van Mierop (1876 – 1930), yang merupakan salah satu pejuang Perhimpunan Anarko-Komunis Religius (Union of Religious Anarcho-Communists). Publikasi tersebut menganjurkan non-kekerasan, kehidupan di alam, pakaian alami, vegetarianisme, dan sebagainya. Melalui publikasi itu, agitasi aktif juga dilakukan di Hindia Belanda, di mana pada tahun 1923 sebuah cabang dari gerakan ini dibentuk.[8]

Anarkis Cina mencoba menyebarkan gagasan revolusioner di kalangan penduduk Tionghoa di Belanda. Zhang Ji, yang nantinya akan berpartisipasi dalam Tokyo Asian Solidarity Society di tahun 1907, menghabiskan beberapa waktu di Jawa, di mana dia menerjemahkan bagian dari buku berbahasa Inggris, “The History of Java”. Ia juga mengobarkan perlawanan kelompok imigran China terhadap kekuasaan kolonial Belanda. Terjemahannya diterbitkan dalam surat kabar Zhongguo ribao, yang diterbitkan di Hong Kong sebagai bagian dalam surat kabar revolusioner China.[9]

Kerja-kerja anarkis Cina di Hindia Belanda dimulai sebelum Perang Dunia Pertama, para aktivis lokal bekerja dan menjalin kontak yang erat dengan anarkis-anarkis di China, Filipina dan Inggris Malaya (Malaysia). Awalnya, gagasan-gagasan revolusioner yang berbeda berkelompok di sekitar rumah bacaan China, yang mulai dibuka di seluruh Hindia Belanda sejak tahun 1909 dan menjadi semacam asosiasi politik yang menentang pihak berwenang Belanda dan China, lalu menciptakan surat kabar (“Hoa Tok Po”, “Soematra Po”, dll).[10] Setelah penggulingan monarki di China pada tahun 1911, kaum anarkis memusatkan perhatian pada pengorganisasian gerakan buruh dan menyebarkan gagasan revolusi sosial. Mereka melakukan pekerjaan, khususnya, melalui kantor “Partai Pekerja” (Gongdang/ Kungtong), yang notabene bukan bertindak sebagai partai politik, melainkan sebagai semacam asosiasi pekerja atau organisasi serikat pekerja. Atas prakarsa Biro Komunikasi Partai Buruh di Laut Selatan (Asia Tenggara) yang berbasis di Singapura, cabang-cabangnya didirikan di kota-kota Hindia Belanda seperti Makassar (Celebes), Batavia, Surabaya (di Jawa) dan Kupang (bagian barat pulau Timor).[11]

Rupanya, sel anarkis pertama muncul antara tahun 1914 dan 1916, seperti yang ditunjukkan oleh Review of the Anarchist Movement in the South Seas. Dalam catatan, yang dipublikasikan dalam publikasi anarkis China pada tahun 1927, disebutkan bahwa di Hindia Belanda ada “banyak kawan yang melakukan usaha terbaik untuk menyebarkan propaganda dalam bentuk koran yang dinamai Minsheng [Suara Rakyat] di pelabuhan pulau-pulau Asia Tenggara.”[12] Surat kabar Minsheng didirikan pada tahun 1913 di Cina selatan oleh seorang anarkis, Liu Shifu, dan diterbitkan sampai tahun 1916 dan juga di tahun 1921. Koran ini tersebar luas juga di kalangan orang Cina yang berada di luar China.

Liu Shifu, figur gerakan revolusioner Cina abad dua puluh dan gerakan anarkisme Cina khususnya.

Mantan aktivis Liga Persatuan di Cina, Bai Binzhou (Pai Pinchow), yang sebelumnya menggagas surat kabar Batavia bernama Hoa Tok Poe, dan seorang anarkis lainnya, Wang Yuting (1892 – 1967), tiba pada tahun 1918 dari Kuala Lumpur, lalu menerbitkan surat kabar anarko-komunis Zhenli Bao di Semarang.[13] Pada tahun 1918, seorang anarkis Liu Shixin, saudara laki-laki Shifu, mulai mengedit publikasi surat kabar Soematra Po [Surat Kabar Sumatera] di wilayah Deli (Medan).[14][15]

Menurut memoar Liu Shixin, ia pergi ke Asia Tenggara pada musim panas 1918 dengan kelompok beranggotakan 6 atau 7 orang. Awalnya mereka berhenti di Singapura, tapi kemudian mereka pindah ke Sumatra untuk mempropagandakan sosialisme. “Mereka tidak memiliki rencana dan konsep organisasi secara keseluruhan, dengan praktik yang juga sangat buruk.” Segera mereka menarik perhatian polisi setempat, yang memanggil mereka “Bushiwei” (“Bolshevik”).[16]

Pada tahun 1919, di kepulauan-kepulauan Indonesia, kelompok kecil yang bernama Society for the Truth of the Southern Seas yang berbasis di Singapura dibentuk, mereka menyebarkan materi tentang anarkisme.[17] Tokoh yang menonjol dalam Society of Truth, seperti yang dikatakan peneliti China Li Danyang, adalah Liu Shixin.[18] Pada bulan April 1919 di Semarang, pekerja Tionghoa menciptakan “Partai Buruh”, yang sebenarnya berada pada posisi anarkisme. Majalahnya adalah Zhenli Bao yang telah disebutkan sebelumnya, terbit dua kali sebulan. Agitasi aktif di surat kabar ini digaungkan oleh seorang anarkis bernama Wu Dunmin, yang tinggal di Malaya Inggris. Kepada pihak berwenang Inggris di Selangor dia menjelaskan selama interogasi bahwa Zhenli Bao diterbitkan oleh “Partai Buruh” dengan maksud untuk “mempromosikan hak asasi manusia”. Tapi sebenarnya, dia secara terbuka menyebarkan gagasan anarkis dalam publikasi ini. Jadi, dalam sebuah editorial pada tanggal 1 Mei 1919, dia secara jelas menyambut baik perjuangan kelas pekerja di seluruh dunia dan pencapaian gerakan sosialis, dengan menyatakan bahwa untuk mencapai “sebuah tanah komunis yang bebas dan bahagia saling membantu” pekerja mesti menggoyang “belenggu-belenggu yang diciptakan orang kaya”, lalu setelah itu mewujudkan anarkisme.[19] Pada tahun yang sama, Bai Binzhou dan Wang Yuting mendirikan surat kabar Sanbaolong Yuebao [Suara Semarang], diterbitkan sampai tahun 1922.[20]

Kerja-kerja anarkis juga dilakukan melalui cabang lokal Serikat Buruh Tiongkok, atau “Partai Pekerja” di Surabaya dan kota-kota lain.[21] Menurut intelijen Inggris, pihak berwenang Hindia Belanda pada tahun 1918-1920-an mengalami masalah besar dengan masyarakat anarkis Tionghoa di Jawa, Sumatra dan Sulawesi. Lewat pencarian polisi dan dengan banyaknya dokumen yang disita, menunjukkan hubungan anarkis China setempat dengan anarkis-anarkis di China dan Singapura.[22] Setelah itu, pada tahun 1918, oleh East Cost of Sumatra Institute, aktivitas beberapa organisasi pekerja  menunjukan memiliki “motif ekonomi” dengan “landasan politik” tertentu. Perhatian khusus diberikan pada distribusi surat kabar berbahasa Mandarin dan Melayu, yang mengungkapkan “gagasan revolusioner dan sosialis”. Juga kerusuhan di perkebunan disertai dengan serangan berulang terhadap administrator Belanda.[23]

Sebagai tanggapan atas intensnya propaganda, pihak berwenang Belanda menahan dua editor Soematra Po pada bulan Maret 1919, termasuk Liu Shixin (dalam dokumen Inggris dia tampil sebagai Shek Sam), dan anarkis lainnya di Medan, dan juga Zhong Fen di Makasar, di pulau pesantren tepatnya. Alasan penangkapan tersebut adalah “dokumen mencurigakan” yang ditemukan oleh polisi, dengan rencana yang mereka sebut dengan “kampanye propaganda utama Bolshevik”.[24] Setelah 52 hari ditahan, Liu Shixin dideportasi dari Hindia Belanda karena menyebarkan gagasan anarko-komunisme dan revolusi Rusia. Pada musim panas 1919, dia kembali ke Guangzhou.[25] Ditangkap di Jawa, Wang Yuting dan Bai Binzhou dideportasi ke Hong Kong pada awal September 1919.[26] Zhong Fen dan agitator aktif lainnya juga dideportasi.

Pekerja China dari Swatow menunggu persiapan kontrak mereka oleh petugas imigrasi di inspektorat ketenagakerjaan Medan, Belawan sekitar 1920-1940.

Terlepas dari represi ini, tidak memungkinkan pemerintah Hindia Belanda untuk melenyapkan gerakan anarkis. Dibuktikan pada 1920-1921 di Sumatra, gelombang pemogokan meletus di jalur kereta api milik Perusahaan Kereta Api Deli, juga pemogokan terbesar selanjutnya yang meletus pada awal bulan September 1920. Lima ribu pekerja kuli kontrak dan 10.000 pekerja kereta api sipil menuntut kenaikan gaji. Bergabung juga dalam pemogokan, karyawan pos dan telegraf. Selain itu, petani setempat bersimpati dengan para pemogok, memasok beras dan makanan lainnya.[28] Beberapa peserta dalam pemogokan tersebut menuntut pembalasan terhadap pejabat kolonial Belanda.[29] Banyak pasukan yang ditarik ke daerah Deli, meriam-meriam diarahkan ke bangunan tempat majelis pekerja diadakan.[30] Bermaksud untuk menggagalkan pemogokan tersebut, pemerintah setempat menahan sepuluh aktivis pada awalnya, menuduh mereka melanggar kontrak, dan ratusan pekerja dipenjara bersama dengan yang ditangkap, dengan mengatakan: “di penjara, kami akan memberi makanan yang lebih baik daripada di perusahaan.” Hasilnya adalah mereka yang ditangkap dibebaskan.[31] Di bawah ancaman pemecatan pada semua peserta pemogokan, setelah 15 hari pergulatan, perjuangan yang panjang tersebut pun berhenti dan berakhir.

Inspirator kampanye pemogokan tersebut, menurut pihak berwenang, adalah Zhang Shimei seorang anarkis-komunis dari Fuzhou (di provinsi Fujian di China), yang datang ke Medan dari Singapura.[32] Rincian biografinya, dikutip dalam berbagai sumber, dikatakan menyimpang karena sifat memberontaknya.[33] Diketahui bahwa ia berbicara dengan faseh dalam bahasa Melayu, dan pemerintah takut Zhang akan melanjutkan propaganda anarkis bahkan walau dalam tahanan. Oleh karena itu, dia diasingkan ke New Guinea. Pada tahun 1923, dia diampuni oleh amnesti kerajaan dan dideportasi ke Singapura.[34]

Menurunnya gerakan anarkis di Hindia Belanda ini disebabkan tidak hanya oleh represi, namun juga oleh lenyapnya gerakan di negara tetangga, Malaya. Meskipun sejauh 1926-1927, cabang dari Serikat Pekerja Mekanika Hong Kong yang beroperasi di Hindia Timur mendukung sindikalisme.[35]

Salah satu jejak terakhir kehadiran anarkis China di Hindia Belanda adalah aktivitas Fu Wumen, yang mengagas berbagai publikasi anarkis antara tahun 1918 dan 1924, dan pada bulan September 1928 datang ke Surabaya. Sampai tahun 1929, dia tercatat sebagai pimpinan redaksi koran Dagong Shangbao.[36] Namun, tidak ada bukti keikutsertaannya dalam gerakan anarkis selama periode ini.

Di Belanda, beberapa pemuda Indonesia memiliki kontak dengan anarkis Belanda. Setelah menemukan diri mereka berada dalam lingkungan yang jauh lebih bebas daripada di bawah rezim kolonial di Hindia Belanda, banyak pemuda yang membangun hubungan dengan kekuatan politik sayap kiri (termasuk kaum Sosial Demokrat, kaum sosialis revolusioner, dan Komunis), dan mengambil bagian dalam pekerjaan Liga Internasional melawan Imperialisme dan Penindasan Kolonial, yang pada kongresnya juga para anti-militeris anarkis berbicara.[38] Beberapa pemuda menunjukkan ketertarikan pada anarkisme. Diantaranya, misalnya, perdana menteri pertama Republik Indonesia (1945-1948) Sutan Sjahrir. Sebagai teman dari Salomon Tas -mantan ketua Klub Mahasiswa Sosial Demokratik, Sjahrir telah melakukan kontak langsung dengannya setelah ia datang ke Amsterdam pada tahun 1929 -teman barunya itu “bergerak lebih jauh dan lebih jauh ke kiri untuk mencari rekan-rekan radikal”, sampai akhirnya bertemu dengan segelintir anarkis yang tinggal di komune. Namun, Sjahrir, menurut Tas, dengan cepat pindah dari sini dan tertarik pada sosialisme dengan bentuk yang “lebih praktis”.[39] Setelah Indonesia mendapatkan kemerdekaan, Sjahrir menjadi pemimpin Partai Sosialis Indonesia.

Kenyataan bahwa kaum nasionalis muda Indonesia pada akhirnya tidak sependapat dengan anarkis Belanda, bukanlah kebetulan. Meskipun anarkisme menentang dan melawan kolonialisme, namun sangat kritis terhadap gagasan untuk menciptakan negara-negara nasional baru. Anarkis Belanda menekankan bahwa kemerdekaan nasional tidak akan menghilangkan posisi pekerja yang dieksploitasi di koloni-koloni, namun hanya akan menggantikan penindasan para penjajah dengan penindasan oleh kaum borjuis mereka sendiri, militer mereka sendiri, dan sebagainya. Berbicara di sebuah kongres anti-kolonial di Brussels pada tahun 1927, perwakilan Komisi Antimiliter Internasional, anarko-sindikalis Arthur Müller-Lehning, memperingatkan masyarakat yang tertindas untuk tidak mengikuti teladan Barat dengan menciptakan negara-negara baru. Dia mendesak mereka untuk memperbarui kehidupan sosial dengan semangat menghilangkan kelas.[40] Dan di Kongres Liga melawan Imperialisme di Frankfurt am Main (1929), delegasi Biro Anti-Militeris Internasional, seorang anarkis yang bernama Bart de Ligt, menyatakan bahwa perjuangan seharusnya tidak hanya dilancarkan melawan kolonialisme dan kekuatan imperialisme “putih”, tapi juga melawan nasionalisme di antara negara-negara tertindas; bukan untuk kekuatan borjuasi nasional, tapi untuk “dunia Internasional yang bebas dan terbuka (tanpa sekat negara) … dari semua bahasa dan ras.” Dia menghubungkan perjuangan kaum nasionalis untuk menciptakan negara-negara merdeka dengan keinginan para elit negara-negara untuk mendominasi. “Di mana-mana di belahan dunia ini kita melihat munculnya kelas borjuis asli yang rindu untuk menciptakan kekuatannya atas dasar eksploitasi massa luas dengan negaranya.” Kelas baru ini pasti berjuang di sana untuk kemerdekaan nasional, namun pada saat bersamaan membangun sistem ekonomi baru yang dipinjam dari kaum borjuis putih…”- itulah penjelasan dari antimilitaris Belanda tersebut. Dia menyerukan perjuangan melawan militerisme dalam gerakan pembebasan, dan juga menyerukan anti-imperialisme, yang seperti ditunjukkan oleh pengalaman di China, hanya dapat mengarah pada imperialisme baru Tiongkok. Posisi opininya jelas, ia mendukung gerakan tidak bersenjata dan non-militeristik.[41] Jelas bahwa pernyataan semacam itu dapat tidak populer di kalangan aktivis yang ingin menciptakan negara borjuis nasional mereka sendiri.

Pada saat proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, tidak ada tanda-tanda adanya gerakan anarkis dalam bentuk apapun di negara ini. Elit politik negara baru menggunakan label “anarkisme” untuk mengutuk lawan-lawan mereka. Setelah tahun 1945, para pekerja mulai secara spontan merebut rel kereta api, perusahaan industri dan perkebunan, membangun kontrol atas mereka, dan pihak berwenang setempat menjuluki gerakan ini “anarko-sindikalisme.” Seperti yang ditunjukkan oleh peneliti Jafar Suryomenggolo, istilah ini dipinjam dari literatur Marxis untuk menggambarkan bahaya dan risiko pekerja yang lepas kendali dari negaranya, namun label tersebut tidak dimaksudkan untuk menggambarkan proses sebenarnya dari kontrol pekerja, namun untuk menolak dan mengecap buruk fenomena dari gerakan kelas pekerja itu. Abdulmajid, yang menjadi pemimpin mahasiswa Indonesia setelah keberangkatan Hatta, dan kaum sosialis lainnya “membawa” ungkapan anarko-sindikalis dari Belanda. Seperti pada bulan Februari 1946, Wakil Presiden Hatta secara terbuka menyerang “sindikalisme,” berbicara pada sebuah konferensi ekonomi di Yogyakarta bahwa perusahaan-perusahaan tersebut telah melewati kontrol negara.[42] Presiden Soekarno, pada gilirannya, mengkhawatirkan kecenderungan “anarko-sindikalis” di Partai Buruh Indonesia yang diciptakan oleh serikat pekerja.[43] Tapi tuduhan ini tidak ada kaitannya dengan gerakan anarkis atau anarko-sindikalis yang sesungguhnya.

Diketahui, anarkisme muncul kembali di nusantara pada tahun 1990an. Pada tahun 1993-1994, sebuah skena punk Indonesia muncul. Perlahan-lahan, bagian itu beralih ke aktivitas anti-kediktatoran dan anti-fasis; mereka membangun hubungan dengan gerakan sosial dan dengan gerakan buruh. Seperti yang dideskripsikan oleh aktivis Indonesia, gerakan anarkis muncul sekitar tahun 1998. “Pada waktu itu anarki identik dengan punk, dan beberapa orang di komunitas itu mulai menaruh perhatian lebih pada ideologi dan nilai anarkis. Sejak saat itu, wacana anarkis mulai berkembang di antara individu dan kolektif di komunitas punk/hardcore, dan kemudian berada dalam kelompok aktivis, pelajar, pekerja yang lebih luas,…” Diskusi dimulai tentang bagaimana menciptakan kelompok dan organisasi secara non-hierarkis dan terdesentralisasi. Pertama-tama, majalah-majalah kecil mulai diterbitkan, di mana berbagai masalah gerakan sosial dibahas: pertanyaan tentang feminisme, nilai anarkis, anti kapitalisme, perlawanan sosial, antiglobalisasi, ekologi, dan lain-lain. Akses ke Internet juga turut memfasilitasi penyebaran anarkisme. Masalah serius waktu itu adalah kurangnya literatur anarkis dalam bahasa Indonesia, lalu pamflet-pamflet kecil tentang Mikhail Bakunin, E. Goldman, R. Rocker telah diterjemahkan dan diterbitkan…[44]

Partisipasi kaum anarkis muda Indonesia dalam gerakan sosial dimulai dengan membagikan makanan kepada yang membutuhkan (Food not Bomb), mendukung demonstrasi dan melakukan kerja-kerja anti-fasis. Jadi, pada bulan Agustus-September 1999, para aktivis Front Antifasis Bandung mendukung perjuangan para pekerja yang mogok dari pabrik Rimba Aristama, mengadakan aksi solidaritas dan demonstrasi. Pada bulan Desember 1999, perwakilan kelompok anti-fasis pemuda radikal dari seluruh Indonesia mengadakan pertemuan pertama “Jaringan Antifasis Nusantara” di Yogyakarta, yang memiliki orientasi gerakan anarkis.[45]

Beberapa kongres diadakan. Kelompok-kelompok itu belum begitu stabil, sering hancur dan diganti dengan yang baru. Pada akhir tahun 1990’an dan pada awal tahun 2000’an, Komite Aksi Rakyat Tertindas dan Anti Fasis-Rasis Action ada untuk beberapa waktu di Jakarta, dan ada info-shop Brainwashing Corporation yang mencoba menyebarkan informasi tentang anarkisme dan juga teori-teorinya. Di Bandung, kolektif konter-kultur aktif, melakukan aksi langsung “dalam kehidupan sehari-hari”; “Forum Bantuan Reksa Dana/Mutual Aid Forum” ada di Malang. Pada tahun 2001, sekelompok anarkis dari Jawa Barat memproklamirkan (berlawanan dengan orientasi budaya yang berkembang) gagasan untuk membentuk sebuah “anarko-platformis” dan gerakan anarko-sindikalis.

Pada awal abad 21, gerakan anarkis di Indonesia tetap bubar; kelompok yang berbeda dan aktivis individu mengikuti versi anarkisme dan bentuk taktis yang berbeda. Meskipun demikian, mereka dapat bergabung dalam usaha mereka untuk melaksanakan proyek bersama, seperti mengadakan demonstrasi di hari besar. Dengan demikian, dalam proses pengorganisasian ini, pada tanggal 1 Mei 2007, kelompok-kelompok seperti Affinitas (Yogyakarta), Jaringan Otonomis (Jakarta), Apokalips (Bandung), Jaringan Otonomi Kota (Salatiga), aktivis individu dari Bali dan Semarang, juga beberapa orang dari band punk Jakarta melakukan koordinasi. Penyatuan ini untuk memulai gerakan tertentu yang disebut dengan “Jaringan Anti-Otoritarian”. Aksi May Day tahun 2007 mengumpulkan lebih dari 100 orang dan menandai kemunculan anarkisme di dalam pandangan publik. Setelah itu, kelompok-kelompok baru muncul di berbagai kota, dan anarkisme mengambil bagian aktif dalam demonstrasi sosial, tindakan melawan pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir, dll.[46]

Penangkapan partisipan Jaringan Anti-Otoritarian oleh polisi di Jakarta, 2008.

Pada May Day 2008, 200 orang ambil bagian dalam demonstrasi anarkis. Meskipun kelompok dari Bandung (“Apokalips”) dan Salatiga (“The Melawan Syndicate”) menolak untuk mendukungnya, demonstrasi ini digagas oleh kolektif di Jakarta dan “Affinitas” dari Yogyakarta. Aksi tersebut ditujukan terhadap perusahaan besar yang diakhiri bentrokan dengan polisi di dekat gedung perusahaan milik milyuner dan politisi Aburizal Bakrie. Peserta dalam aksi tersebut ditangkap. Represi Mei 2008 memperlambat pertumbuhan gerakan anarkis muda di negara ini. Beberapa kelompok putus. Meski begitu, aktivis dan kelompok baru muncul dan terus berpartisipasi dalam perjuangan sosial, termasuk dalam bentuk radikal, bentrokan, tindakan sabotase dan pendudukan. Pada tahun 2010, kelompok anarkis beroperasi di pulau Jawa (di Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Pati, Surabaya, Rembang, Randublatung, Salatiga, Porong), Sumatra (di Palembang, Pekanbar, Medan, Ace), Kalimantan (di Balikpapan), Sulawesi (di Makassar, Manado dan Gorontalo) dan di Bali.[47] Beberapa anarkis Indonesia sekarang tertarik pada anarko-sindikalisme.[48] Sehingga, pada awal tahun 2010, sekelompok aktivis di Surabaya, Jakartadan daerah lain menciptakan sebuah inisiatif kecil, yang bernama Workers Power Syndicate, yang mengklaim diri sebagai anarko-sindikalis dan pada tahun 2012 membantu karyawan pabrik garmen Garmondo Jaya di Bogor selama ada konflik buruh.[49]

Pada tahun 2016, dengan dukungan Anarcho-Syndicalist Federation Australia (ASF Australia), Persaudaraan Pekerja Anarko-Sindikalis (PPAS) diorganisir. PPAS menggambarkan dirinya sebagai “gerakan buruh libertarian” yang didasarkan pada prinsip-prinsip anarko-sindikalisme, mengumumkan tujuannya “sebuah masyarakat yang didasarkan pada kebebasan, bantuan timbal balik (mutual aid), federalisme dan administrasi sendiri”, sekaligus bermaksud untuk memperjuangkan perbaikan situasi sehari-hari masyarakat pekerja.[50] Persaudaraan Pekerja Anarko Sindikalis meminta semua serikat pekerja dan aktivis individu “yang tertarik” untuk bergabung dengannya. Anggota kelompok tersebut mengambil bagian dalam demonstrasi May Day tahun 2016 dan 2017. Pada tanggal 1 November 2016, PPAS juga berpartisipasi dalam demonstrasi pekerja di Surabaya menuntut tingkat upah yang rendah. Di tahun 2017, PPAS memasukkan kelompok-kelompok lokal di Jakarta dan Surabaya, serta beberapa anggota serikat pekerja independen dari driver Uber (KUMAN). Di tahun yang sama yakni tahun 2017, serikat driver uber (KUMAN) memasuki konflik tenaga kerja serius pertama dengan perusahaan Uber, berusaha meningkatkan gaji dan memperbaiki kondisi kerja; pemogokan dan demonstrasi pun diorganisir. Aksi tersebut didukung oleh anarko-sindikalis Internasional, International Workers Association (IWA). Pada panggilan IWA tanggal 7 September 2017 di sejumlah negara di seluruh dunia, aksi solidaritas dengan perjuangan driver Uber Indonesia dijalankan.[51] Anggota Sekretariat IWA yang mengunjungi Indonesia pada bulan September 2017 mengadakan serangkaian diskusi mengenai anarkisme dan anarko-sindikalisme yang berlangsung di kantor pusat PPAS Jakarta dan juga di tempat anarkis Yogyakarta.

Catatan kaki

[1] Sejarawan anarkis terkenal Max Nettlau bahkan percaya bahwa di Indonesia, tampaknya, “hanya propaganda komunis yang tersedia”. Cf. M. Nettlau. A Short History of Anarchism. London, 1996. Hlm 259.

[2] J.M. Welcker. Eduard Douwes Dekker // Biografisch Woordenboek van het Sosialisme en de Arbeiderbeweging di Nederland. 5. 1992. Hlm 45-58 – http://hdl.handle.net/10622/5E1ECE1F-ED0F-4D66-89F3-2726DFACF952

[3] K. van Dijk. The Nederlands Indies and the Great War, 1914–1918. Leiden, 2007. Hlm 47–50. Anggota Indian Social Democratic Union menyebut Douwes Dekker sebagai “nationalis anarkis” (cf. Socialisme en Indonesiё. Vol.1. De Indische Sociaal-Democratische Vereening, 1897 – 1917. Bronnenpublicatie / Bewerkt en ingeleid door F. Tichelman. Dordrecht, Cinnamisson, 1985. Р.187). Pemimpin Sosial Demokratik Belanda Henri van Kohl menyebutnya “anarchist of action” (cf. J.W. Schilt. 100 jaar Indonesische onafhelijkheidsstrijd: Ernest Douwes Dekker en de Indische Partij // website “NPO Geschiedenis” –

http://www.npogeschiedenis.nl/nieuws/2014/februari/Ernest-Douwes-Dekker-Indische-Partij.html).

[4] R. L. Blom, Th. Stelling Niet voor God en niet voor Vaderland. Linkse soldaten, matrozen en hun organisaties tijdens de mobilisatie van `14 -` 18. Amsterdam, 2004. Hlm 741-743.

[5] Ibid. Hlm 745-746.

[6] Ibid. Hlm 780, 782.

[7] Ibid. Hlm 809.

[8] P. Hoekman. Dirk Lodewijk Willem van Mierop // Biografisch Woordenboek van het Socialisme en de Arbeiderbeweging di Nederland. 6. 1995. P.142-147 – http://hdl.handle.net/10622/8749DD55-7ED7-40E5-A629-96EEEB93561E

[9] R.E. Karl. Staging the World. Chinese Nationalism at the Turn of the Twentieth Century. Duke University Press, 2002. Hlm 168.

[10] A. Claver. Dutch Commerce and Chinese Merchants in Java. Colonial Relationships in Trade and Finance, 1800 – 1942. Leiden; Boston, 2014. Hlm 197–198.

[11] Socialisme en Indonesiё. Vol.1. Р.41. “Partai Buruh” (Gongdang), yang merupakan semacam campuran antara serikat pekerja, dan organisasi pembelaan diri / perlindungan hak-hak pekerja, pertama kali muncul di China pada bulan Desember 1911, namun dihancurkan oleh Yuan Shikai pada tahun 1913. Meski demikian, organisasinya mulai diciptakan lagi di tahun 1913 oleh orang Tionghoa di Asia Tenggara. Pada tahun 1917, setelah pembebasan Guangzhou dari kekuatan militeris China Utara, di sana -, dengan dukungan dari “Partai Pekerja” yang beroperasi di Asia Tenggara dan Hong Kong – Federasi Industri Cina Rantau dibentuk, yang menjadi dasar “Serikat Pekerja Umum” Guangzhou.

[12] Ou Xi. Nanyang wuxhengfu zhui yundong zhi gaikuang // http://raforum.info/spip.php?article1992 [18.10.2015].

[13] C.F. Yong. The Origins of Malayan Communism. Singapore, 1997. P.19.

[14] Surat kabar “Soematra Po” (“Somuntaplap Po” / “Sumendala Bao”) didirikan pada tahun 1908 (cf. Huaqiao huaren baike quanshu: xinwen chuban juan Vol.6, Beijing, 1990. P.474) atau di 1909 (cf. A. Claver. Op. Cit. Р.197) oleh anggota Liga Persatuan. Sejak akhir tahun 1914, pertama-tama diterbitkan oleh Kuomintang sebagai surat kabar mingguan, dan setelah tahun 1924 sebagai surat kabar harian yang berjudul “Sumatra Pin Po” (“koran rakyat Sumatra”). Setelah Perang Dunia Kedua dipandu oleh Liga Demokratik China. Pada tahun 1960 ini ditutup oleh pihak berwenang Indonesia.

[15] Guang Xushan, Liu Jianping. Zhongguo wuzhengfu zhui shi. Changsha, 1989. Hlm152; Lu Zhe. Zhongguo wuzhengfu zhui sixiang shi. Beijing, 1994. Hlm 111; C.F. Yong. Op. cit. P.15.

[16] Wuzhengfu zhui sixian ziliao xuan. Vol.2. Beijing, 1984. P.935. Chinese anarchist Tanzu In confirmed that Liu Shixin “get to Indonesia to edit “Sumendala Bao”” (Fang Tanzu In – http://www.xzbu.com/1/view-328258.htm)

[17] Kitayskie anarhisty i internazionalnyi anarhicheskiy kongress // Anarhicheskiy Vestnik. 1923. No.5-6. Hlm 76–77; J.-J. Gandini. Aux sources de la revolution chinoise: les anarchisres. Paris, 1986. Hlm 170.

[18] Li Danyang. AB hezuo zai Zhongguo gean yanjiu: Zhen(li) she jian zita // Jindai shi yanjiu (Modern Chinese History Studies). 2002. № 1. Hlm 50. – http://jds.cass.cn/UploadFiles/zyqk/2010/12/201012141215396273.pdf.

[19] C.F. Yong. Op. cit. P.23–27.

[20] Wenshi ziliao cungao xuanbian: shehui // Zhonnguo renmin zhengzhi xeshang huiyi: Quanguo weiyuanhui: Wenshi ziliao weiyuanhui. Vol.25. Beijing, 2002. Hlm 21.

[21] Report respecting Bolshevism and Chinese Communism and Anarchism in the Far East // British documents on foreign affairs: reports and papers from the Foreign Office confidential print. Part II. From the First to the Second World War. Series E, Asia, 1914–1939. Vol.26. October 1921 – February 1922. [Bethesda, MD], 1994. Hlm 72.

[22] Ibid. Р.72, 74.

[23] A.L. Stoler. Capitalism and Confrontation in Sumatra`s Plantation Belt, 1870 – 1979. 2nd. ed. Ann Arbor, 1995. Hlm 62–63.

[24] British documents on foreign affairs: reports and papers from the Foreign Office confidential print. Part II. Vol.23. [Bethesda, MD], 1996. Hlm 289.

[25] Ou Xi. Op.cit.; C.F. Yong. Op. cit. P.15.

[26] C.F. Yong. Op. cit. P.19.

[27] Report respecting Bolshevism and Chinese Communism and Anarchism in the Far East // British documents on foreign affairs…. Hlm 74. Menurut intelijen Inggris, selama pencarian yang dilakukan oleh pihak berwenang Belanda pada tahun 1919 di Semarang, dokumen-dokumen disita, termasuk surat edaran dari “Society of Truth” ke cabang dan arahan lokal dari “partai pekerja” dari Guangzhou. Zhong Feng dianggap sebagai tokoh penting dalam “partai pekerja”, yang juga berkenalan dengan pekerjaannya di Singapura, Penang dan kota-kota lain di Malaya. Setelah itu, Zhong Feng dan “Shek Sam” (ditangkap di Makassar) dan diusir dari Hindia Belanda.

[28] Yugo-Vostochnaya Aziya: ocherki ekonomiki i istorii. Moskwa, 1958. P.157.

[29] .C.F. Yong. Op. cit. P.17.

[30] Ye.P. Zakaznikova. Rabochiy klass i nacionalno-osvoboditel`noye dvizheniye v Indonezii. Moskwa, 1971. P.91.

[31] Ibidem.

[32] Known also as Zhang Hungcheng, Chung Honsen, Chung Wansen, Chung Ximei or Wong Tekchai.

[33] C.F. Yong mencatat bahwa Zhang Shimei bekerja di Singapura pada tahun 1920-1921 dan datang ke Medan pada tahun 1921. Dia mengorganisir sebuah pemogokan pekerja kereta api melawan pihak berwenang Belanda, setelah ditangkap dan dipenjara selama 3 tahun (CF Yong Op.cit. .17). Menurut sumber anarkis China, Zhang adalah “motor” pemogokan teknisi elektro pada tahun 1920 dan dijatuhi hukuman 6 tahun penjara (Ou Xi Op.cit.). Akhirnya, adalah mungkin untuk menemukan informasi bahwa Zhang Shimei memimpin gerakan pekerja di Jawa pada tahun 1920 dan bahwa dia ditangkap kemudian dan dideportasi dari Hindia Belanda ke China pada tahun 1924 (http://anti-generationism.blogspot.com/2010 /07/blog-post_5310.html ).

[34] Ou Xi. Op.cit. Menurut C.F. Yong, Zhang Shimei kembali ke China pada tahun 1925 dan bergabung dengan Partai Komunis. Pada bulan Desember 1927, dia berpartisipasi dalam pemberontakan Partai Komunis di Guangzhou, dan digeledah oleh Kuomintang. Pada bulan Januari 1928, Partai Komunis China mengirimnya ke Malaya Inggris untuk membangun Komite Provisory Partai Komunis Laut Selatan. Dia ditangkap di Singapura 8 Maret 1928 dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup (C.F. Yong. Op.cit. P.17).

[35] Ye. Yu. Staburova. Anarhizm i rabocheye dvizheniye v Kitaye v nachale XX v. // Kitay: gosudarstvo i obshchestvo. Moskwa, 1977. Hlm 213.

[36] Liang Yingmin. Fu Wumen – Xinjiapo huawen bao ren – http://www.chinaqw.com/node2/node116/node117/node163/node820/node825/userobject6ai46284.html.

[37] R. Rocker. Anarcho-Syndikalism. London, 1989. P.165.

[38] Untuk kontak pelajar Indonesia di Belanda dengan organisasi kiri dan gerakan anti-kolonialisme internasional lihat, misal: K. Stutje. Indonesian Identities Abroad. International Engagement of Colonial Students in the Netherlands, 1908 – 1931 // BMGN – Low Countries Historical Review. 2013. Vol.128-1. Hlm 151–172.

[39] R. Mrázek. Sjahrir: Politics and exile in Indonesia. Ithaca, 1994. P.59, 61.

[40] A. Müller-Lehning. Der soziale und nationale Befreiungskampf Indonesiens // Die Internationale. 1929. April. Nr.6. S.15–17. Secara khusus, empat mahasiswa Indonesia dari Asosiasi Indonesia ambil bagian dalam kongres tersebut: wakil presiden independen Indonesia M. Hatta, N. Pamunchak, Gatot dan Subarjo (lihat: K. Stutje. Op.cit.). Sejumlah anarkis Eropa terkemuka berpartisipasi dalam kegiatan Liga melawan imperialisme dan kongresnya di Brussels dan Frankfurt, terlepas dari pengaruh kuat partai Komunis dalam gerakan tersebut. “… Berkat Liga, untuk pertama kalinya kami melakukan kontak nyata dengan masyarakat kolonial ..,” Müller-Lehning menjelaskan dalam sebuah surat kepada anarkis India M.P. Acharya pada tanggal 15 Agustus 1929. “Kami berusaha untuk bekerja di dalam Liga begitu lama, karena mungkin saja, bukan karena kami sangat senang bekerja dengan Komunis, tapi karena kami percaya bahwa jika tidak, kami akan kehilangan semua kontak dengan masyarakat kolonial ” cf. H. Piazza. The Anti-Imperialist League and the Chinese Revolution // The Chinese Revolution in the 1920s: Between Triumph and Disaster, L .; NY, 2002. P.174).

[41] B. De Ligt. Die wesentliche Einheit des Kampfes gegen soziale Unterdrückung mit dem Kampfe gegen Militarismus und Krieg // Die Internationale. 1929. Oktober. Nr.12. S.1–6. Di Kongres Liga, Hatta juga hadir

[42] J. Suryomenggolo. Worker`s Control in Java, Indonesia, 1945–1946 // Ours to Master and to Own. Worker`s Control from the Commune to the Present. Chicago, 2011. Hlm 222.

[43] G.A. van Klinken. Minorities, Modernity and the Emerging Nation. Christians in Indonesia, a Biographical Approach. Lejden, 2003. Hlm 193.

[44] Cf.: Interview mit AnarchistInnen aus Indonesien // Von Jakarta bis Johannesburg: Anarchismus weltweit. Münster, 2010. Hlm 238–247.

[45] Black Flag. [2000]. No.219. Hlm 12.

[46] Interview mit AnarchistInnen aus Indonesien…

[47] Ibid.

[48] Perlu dicatat bahwa pada tahun 2006, dua asosiasi serikat pekerja Indonesia (Federasi Serikat Pekerja Nasional Indonesia (FSPNI), yang menghubungi IWA pada bulan Maret 2005, dan bagian dari federasi ini, Pusat Serikat Pekerja Nasional, yang didirikan di 2005) diminta untuk bergabung dengan IWA. Mereka bekerja sama dengan World Federation of Trade Unions. Organisasi-organisasi ini tidak diterima di IWA, karena mereka bukan sindikat sindikat anarko-sindikalis atau revolusioner, mereka menyatakan dukungan mereka untuk UNO, Organisasi Perburuhan Internasional, dan mereka telah membebaskan fungsionaris dan struktur non-federalis. Kongres XXIII M.А.T. pada bulan Desember 2007 secara resmi menolak keanggotaan FSPNI (Lihat: XXIII Congress International Workers Association, Manchester, 8, 9 & 10 December 2006 // International Workers Association Archiv. BI003, Dec. 18, 2007. Hlm 50).

[49] Indonesian syndicalists fight for justice at PT Garmindo Jaya KNH – https://libcom.org/news/indonesian-syndicalists-face-30092012

[50] PPAS – Persaudaraan Pekerja anarko-sindikalis. Home – http://ppas.online/en/home/

[51] Pemogokan Driver Uber di Indonesia  – https://libcom.org/news/uber-drivers-strike-indonesia-23082017; Solidarity with UBER drivers! // International Workers Association – Asociación Internacional de los Trabajadores – http://www.iwa-ait.org/content/solidarity-uber-drivers

PATRIOTISME : ANCAMAN BAGI KEBEBASAN

PATRIOTISME : ANCAMAN BAGI KEBEBASAN
Oleh Emma Goldman, 1911
dimanche 20 avril 2003

Apakah patriotisme itu? Apakah cinta dengan tempat lahir seseorang, tempat seseorang mengenang masa kecil, mimpi dan aspirasinya? Dengan sebuah tempat, dimana kita dengan jiwa kekanak-kanakan memandang awan yang bergerak dan bertanya mengapa kita tak dapat begerak secepat awan itu? Dengan tempat dimana kita melihat bintang-bintang betebaran di langit ? Dengan tempat dimana kita mendengar kicauan burung dan berangan-angan ingin bisa terbang seperti burung ke tempat nun jauh? Atau, apakah cinta dengan tempat kita dipangku ibu mendengar dongeng-dongengnya ? Singkatnya, apakah patriotisme itu adalah cinta dengan setiap jengkal tempat dimana kita dibesarkan dan bermain, dimana kita dapat mengenang masa kecil yang penuh dengan kegembiraan?

Kalau itu adalah patriotisme, hanya sedikit orang Amerika yang bisa menjadi patriotik, karena tempat bermainnya sudah dibangun menjadi pabrik-pabrik dan dengungan mesin telah menggantikan musik (kicauan) burung.

PATRIOTISME : ANCAMAN BAGI KEBEBASAN

Oleh Emma Goldman, 1911

dimanche 20 avril 2003

Apakah patriotisme itu? Apakah cinta dengan tempat lahir seseorang, tempat seseorang mengenang masa kecil, mimpi dan aspirasinya? Dengan sebuah tempat, dimana kita dengan jiwa kekanak-kanakan memandang awan yang bergerak dan bertanya mengapa kita tak dapat begerak secepat awan itu? Dengan tempat dimana kita melihat bintang-bintang betebaran di langit ? Dengan tempat dimana kita mendengar kicauan burung dan berangan-angan ingin bisa terbang seperti burung ke tempat nun jauh? Atau, apakah cinta dengan tempat kita dipangku ibu mendengar dongeng-dongengnya ? Singkatnya, apakah patriotisme itu adalah cinta dengan setiap jengkal tempat dimana kita dibesarkan dan bermain, dimana kita dapat mengenang masa kecil yang penuh dengan kegembiraan?

Kalau itu adalah patriotisme, hanya sedikit orang Amerika yang bisa menjadi patriotik, karena tempat bermainnya sudah dibangun menjadi pabrik-pabrik dan dengungan mesin telah menggantikan musik (kicauan) burung.

Kalau begitu, apakah patriotisme itu? Leo Tolstoy, anti patriotisme terbesar zaman ini, mendefinisikan patriotisme sebagai suatu prinsip yang membenarkan pelatihan pembunuh; suatu usaha yang memerlukan peralatan yang lebih canggih untuk membunuh manusia daripada untuk membuat keperluan manusia, misalnya, sepatu, pakaian dan rumah; usaha yang dapat membawa kebesaran dan sukses, lebih daripada usaha-usaha lain.

Gustava Herve, juga seorang anti patriot yang besar, mengartikan patriotisme dengan tepat. Menurutnya, patriotisme adalah takhyul yang lebih bahaya dan brutal daripada agama. Takhyul agama berasal dari ketidak mampuan manusia untuk menjelaskan fenomena alami. Misalnya, ketika seorang manusia primitif mendengar geledek dan melihat kilat, dia tidak dapat menjelaskan kejadian itu dan menganggap bahwa ada kekuatan yang lebih besar darinya. Dia juga akan menganggap semua fenomena lain, seperti hujan sebagai fenomena gaib. Lain dengan patriotisme yang merupakan takhyul yang diciptakan dan dipertahankan secara artifisial, melalui jaringan penipuan dan kebohongan; tahkyul yang merebut kehormatan seseorang dan membuatnya sombong.

Memang, egoisme dan kesombongan adalah sifat-sifat yang harus dimiliki seorang patriot. Saya akan coba menjelaskan pernyataan di atas. Paham patriotisme menganggap bahwa dunia ini terpecah menjadi bagian -begian kecil, setiap bagian dikelilingi pintu besi. Mereka yang beruntung (kebetulan) lahir dalam sebuah bagian tersebut, akan menganggap diri mereka lebih tinggi derajatnya, lebih pandai dan lebih segala-galanya (dibandingkan dengan manusia di luar pintu besinya). Jadi merupakan tugas bagi setiap orang yang lahir di bagian yang ’terpilih’ itu untuk berperang, membunuh dan mati untuk membuktikan « kebenaran dan kelebihannya » kepada orang lain di luar pintu besinya.

Mereka yang tinggal di bagian-bagian lain, akan mempunyai jalan pikir yang sama. Sudah pasti demikian, karena sejak masih kanak-kanak pikiran mereka sudah diracuni dengan cerita-cerita yang penuh prasangka (untuk menimbulkan kebencian) terhadap orang-orang asing. Ketika anak -anak itu sudah menjadi dewasa, pikirannya sudah dipenuhi dengan kepercayaan bahwa dia adalah yang « terpilih » oleh Tuhan untuk membela negaranya dari serangan orang-orang asing. Untuk memenuhi maksud tersebut, kita di Amerika, mempersiapkan angkatan bersenjata, amunisi dan kapal perang yang semakin megah dan yang jumlahnya semakin banyak.

Untuk memenuhi maksud patriotismne, baru-baru ini, Amerika mengeluarkan empat ratus juta dolar dalam waktu yang singkat. Cobalah kita pikirkan, empat ratus juta dolar yang diambil dari hasil keringat warga negara (mereka yang membayar pajak). Sudah pasti, bukanlah orang-orang kaya yang menunjang patriotisme. Mereka (orang-orang kaya) adalah manusia kosmopolitan, merasa « di rumah » di setiap negara. Kita di Amerika, tahu mengenai fakta ini dengan jelas sekali; bukankah, orang kaya Amerika, menjadi orang Perancis di Perancis, orang Jerman di Jerman, atau orang Inggris di Inggris. Tetapi patriotisme itu bukanlah untuk mereka yang berkuasa dan yang kaya. Patriotisme, seperti agama, cukup diterapkan bagi orang awam. Kita diingatkan kepada Frederick the Great, kawan dekat Voltaire, yang berkata,  » agama adalah penipuan (yang terorganisir), tetapi harus dipertahankan untuk orang awam « .

Patriotisme adalah sebuah institusi yang mahal, tidak ada orang yang akan menyangkalnya setelah meneliti statistik di bawah ini. Kenaikan perbelanjaan militer (darat dan udara) yang besar mengejutkan setiap pelajar ekonomi yang kritis. Dari tahun 1881 sampai 1905, perbelenjaan militer Inggris naik dari $ 2.101.848.936 ke $4.143.226.885; bagi Perancis, dari $3.324.500.000 ke $3.455.109.900; bagi Jerman, dari $725.000.200 ke $ 2.700.375.600; bagi Rusia, dari $ 1.900.975.500 ke $ 5.250.445.100; bagi Amerika, dari $ 1.275.500.750 ke $ 2.650.900.450; bagi Itali, dari $ 1. 600.975.750 ke $1.755.500.100; bagi Jepang, dari $182.900.500 ke $ 700.925.475.

Dalam periode 1881-1905 kenaikan dalam pengeluaran untuk angkatan bersenjata Inggris naik empat kali lipat; Amerika, tiga kali lipat; Rusia, dua kali lipat; Jerman 35%; Perancis 15% ; dan bagi Jepang, hampir 500%.

Secara proporsi, pengeluaran militer (darat dan udara) negara-negara tesebut dari total pengeluaran negara, juga naik (untuk periode 1881-1905)): Di Inggris dari 20 ke 37 %, di Amerika dari 15 ke 23 %, di Prancis dari 16 ke 18%, di Itali dari 12 ke 15 %, di Jepang dari 12 ke 14%. Tetapi, di Jerman, pengeluaran untuk militer menurun dari 58 ke 25 %; penurunan ini terjadi karena kenaikan dalam pengeluaran untuk hal-hal yang lain yang luar biasa besar jumlahnya.

Perbelanjaan untuk angkatan laut juga sama luar biasa besarnya. Dalam periode yang sama, kenaikan dalam pengeluaran marinir adalah sebagai berikut: Inggris, 300%; Perancis, 60%; Jerman, 600%; Amerika, 525%; Rusia, 300%; Itali, 250%; Jepang, 700%.

Dalam periode 1881-1885, pengeluaran untuk angkatan laut Amerika adalah $6.20 untuk setiap $100 pengeluaran negara; jumlah ini naik menjadi $6.60 dalam lima tahun berikutnya, menjadi $8.10 pada lima tahun berikutnya dan akhirnya, $16.10 untuk periode 1901-1905. Kita bisa pasti, berdasarkan statistik yang ada, bahwa pengeluran tersebut akan terus naik di tahun-tahun berikutnya.

Kenaikan anggaran perbelanjaan militer dapat kita ilustrasikan lebih jauh dengan menghitung perbelanjaan tersebut sebagai pajak per kapita. Dari (lima tahun) periode pertama (1801-1805) sampai periode kelima (1901-1905), perbandingan pengeluran militer sebagai pajak per kapita dapat kita lihat: di Inggris, dari $18,47 ke $52,50; di Perancis dari $19,66 ke $23.62; di Jerman dari $10,17 ke $15.51; di Amerika dari $5.62 ke $13,64 ; di Rusia dari $6,14 ke $8,37; di Itali dari $9,59 ke $11,24 ; di Jepang dari $0,86 ke $3,11.

Penghamburan yang luar biasa yang dibutuhkan patriotisme, merupakan alasan yang cukup untuk menyembuhkan orang yang mempunyai kepandaian rata-rata dari penyakit tersebut.

Orang-orang awam digalakkan untuk menjadi patriotik, dan untuk kemewahan tersebut mereka harus bersedia untuk membantu pembela-pembela negara dan kadang mengorbankan anak mereka. Patriotisme membutuhkan kesetiaan seseorang terhadap bendera, yang artinya kesediaan untuk membunuh ibu, bapa dan sanak saudara.

Alasan pro-militarisme yang sering kita dengar adalah « kita membutuhkan angkatan bersenjata untuk menjaga negara kita dari serangan orang asing. » Setiap orang yang pandai tentunya tahu bahwa alasan tersebut hanya dipakai untuk menakut-nakutkan dan memaksa mereka yang jahil. Pemerintah negara-negara di dunia mengetahui keinginan masing-masing dan tidak akan secara sembarang menyerang satu sama lain. Mereka tahu bahwa keinginan mereka bisa dicapai dengan lebih efektif dengan diplomasi. Bahkan, menurut Carlyle, « perang adalah perrgaduhan antara dua orang pencuri yang terlalu takut untuk berperang sendiri; jadi mereka memakai mereka merekrut orang-orang, memberikan mereka seragam dan senjata, dan membiarkan mereka lepas seperti binatang liar membunuh satu sama lain.

Setiap perang yang dikaji, pasti mempunyai sebab yang sama. Misalnya perang Spanyol-Amerika, yang dikatakan sebagai perang yang hebat dan penuh nilai patriotik dalam sejarah Amerika. Bagaimana perasaan kita dipenuhi dengan kemarahan terhadap orang Spanyol yang kejam! Betul, bahwa kemarahan kita tidak bangkit secara spontan. Perasaan itu dibangkitkan dengan agitasi koran-koran selama berbulan-bulan.

Tetapi setelah perang usai dan yang gugur telah dikubur; akibat perang itu dirasakan oleh orang awam, dalam bentuk kenaikan harga barang-barang dan harga sewa rumah. Setelah kita sadar dari buaian patriotisme, tiba-tiba kita tahu bahwa sebab perang Spanyol-Amerika adalah karena harga gula; atau secara lebih kasar, nyawa, darah dan uang orang Amerika telah dipakai untuk menjaga interest kapitalis Amerika dalam perdagangan gula. Pernyatan di atas tidaklah dilebih-lebihkan, tetapi berdasarkan fakta dan angka.

Penggunaan kekerasan seperti yang disebutkan di atas juga bukan insiden yang langka, contohnya adalah kebijakan pemerintah Amerika terhadap buruh-buruh di Kuba. Ketika Kuba masih dikuasai Amerika, pasukan yang sama yang membebaskan Kuba, diperintahkan untuk menembak buruh tembakau Kuba yang sedang mogok kerja.

Bukanlah hanya kita (di Amerika) yang melakukan perang untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Penyebab perang Rusia-Jepang yang brutal telah diumumkan oleh menteri perang Rusia, Kuropatkin. Kaisar Rusia dan kerabatnya baru berinvestasi dalam usaha pembuatan peralatan perang, dan maksud perang tersebut adalah untuk membuka pasar bagi peralatan perang tersebut.

Alasan bahwa kekuatan militer yang besar adalah jaminan untuk menjaga perdamaian sama logikanya dengan pernyataan bahwa individu yang merasa damai adalah dia yang menjaga dirinya dengan persenjataan yang berat. Pengalaman membuktikan bahwa individu yang bersenjata mempunyai tendensi untuk memamerkan « kekuatannya ». Begitu juga halnya dengan pemerintah. Negara yang benar-benar ingin perdamaian tidak akan membuang waktu dan tenaga untuk persiapan perang; inilah perdamaian abadi. Tetapi keinginan untuk memperbesar kekuatan militer bukanlah karena ancaman dari luar. Ancaman datang dari dalam negeri; ketidak puasan masa dan buruh atas pemerintah. Angkatan bersenjata dipersiapkan untuk menangani musuh-musuh internal tersebut; musuh yang kalau telah kesadarannya bangkit, akan jauh lebih berbahaya daripada kekuatan asing dari manapun.

Institusi negara adalah kekuatan yang telah beratus-ratus tahun memperbudak masa melalui penguasaan psikologi masa. Aparatus negara tahu bahwa sebagian besar masa adalah ’anak kecil’ yang bisa dibujuk dengan mainan. Dan kalau mainan ini semakin berwarna-warni, mereka akan semakin suka.

Angkatan bersenjata sebuah negara merupakan « mainan » tersebut. Untuk membuat « mainan » itu lebih menarik ratusan ribu dolar telah dipakai untuk « menghiasinya ». Contohnya: pemerintah Amerika mengirim satu konvoi angkatan laut ke Pasifik supaya setiap warga negara Amerika merasa bangga dengan negaranya itu. Kota San Fransisco menghabiskan seratus ribu dolar untuk menyambut konvoi tersebut; Los Angeles, enam puluh ribu; Seattle dan Taccoma sekitar serartus ribu. Untuk menyambut konvoi tersebut?? Untuk makan dan minum dengan prajurit-prajurit pangkat atas, sedangkan prajurit-prajurit (bawahan) lainnya harus melakukan unjuk rasa untuk sekedar makan yang cukup. Ya, dua ratus enam puluh ribu dihabiskan untuk petasan, pesta dan foya-foya, pada waktu kaum perempuan dan kanak-kanak sedang mengalami kelaparan di seluruh negara; ketika ribuan penganggur bersedia untuk menjual tenaga mereka semurah-murahnya.

Dua ratus enam puluh ribu dolar! Apa yang tidak bisa dibeli dengan uang sebanyak itu? Tetapi, bukan untuk roti dan rumah; anak-anak kota-kota tersebut diajak untuk melihat pesta penyambutan angkatan laut tersebut, supaya mereka ingapat dijatuhkan dari pesawat terbang ke target masyarakat. Kita merasa bangga mengetahui bahwa Amerika akan menjadi negara terkuat di dunia, dan kemudian akan menanamkan kaki besinya di leher negara-negara lain. Itu semua adalah logika patriotisme.

Tetapi, segala dampak buruk patriotisme terhadap masyarakat awam tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan penghinaan dan luka yang dirasakan mereka yang bekerja di militer. Mereka adalah korban kejahilan dan takhyul yang patut dikasihani. Dia, pembela dan penjaga negara, apakah yang dapat diberikan patriotisme terhadap seorang prajurit? Sehari-harinya mereka harus selalu tunduk. Kehidupan mereka penuh dengan kebiasaan buruk (vice), bahaya dan kematian. Ketika saya sedang dalam tur memberikan kuliah di San Fransisco, saya mengunjungi sebuah tempat yang paling indah. Dari sana kita dapat melihat « the Bay » dan « Golden Gate Park ». Tempat itu semestinya digunakan untuk sebuah taman untuk anak-anak dan untuk pertunjukan musik. Tetapi, di tempat itu dibangun barak militer yang jelek.

Di barak yang menyedihkan tu, prajurit-prajurit diangon seperti binatang. Di situ mereka membuang waktu mengelap sepatu lars dan lencana mereka untuk diperlihatkan kepada pemimpin mereka. Kehidupan bagi prajurit seringkali tidak mempersiapkannya untuk hidup kembali secara normal dalam masyarakat. Kebanyakan dari mereka tidak mempunyai keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat. Bagi mereka yang mempunyai keterampilan, kadang mereka tidak bisa beeradaptasi dengan kehidupan normal, dan keterampilannya tersebut tidak dapat sepenuhnya dimanfaatkan. Mereka terbiasa dengan kehidupan yang « idle » (pasif) dan penuh dengan petualangan (adventure). Tidak ada pekerjaan normal yang bisa memuaskan diri mereka. Pendek kata, mereka tidak lagi dapat melakukan pekerjaan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Tetapi, biasanya yang masuk barak itu adalah eks tahanan; karena mereka susah mencari penghidupan atau memang karena mentalitas mereka sesuai dengan kehidupan militer. Sesudah kontrak militer selesai, biasanya mereka akan kembali kepada kehidupan kriminal, lebih zalim dari sebelumnya. Di Amerika memang lumayan banyaknya eks serdadu yang meringkuk di penjara; dan angkatan bersenjata juga dipenuhi dengan eks tahanan.

Dari semua akibat patriotisme yang telah saya jelaskan, yang paling merusakkan adalah pelecehan harga diri seseorang seperti yang diderita oleh serdadu William Buwalda. Karena dia dengan bodohnya percaya bahwa dia bisa menjadi seorang tentara dan juga dapat menerima hak penuhnya sebagai manusia, otoritas militer telah memberikan hukuman berat baginya.

Memang betul bahwa dia telah bertugas untuk negara selama lima belas tahun, dan dalam waktu itu, arsipnya bersih dan sempurna. Menurut Jendral Funston yang meringankan hukumannya menjadi tiga tahun penjara, « tugas seorang serdadu adalah kesetiaan yang tidak dapat dipertanyakan kepada pemerintah, meskipun dia tidak setuju dengan pemerintah tersebut. » Funston telah menjelaskan arti kesetiaan. Menurutnya, jika seseorang masuk militer, dia secara otomatis menolak Deklarasi Kemerdekaan (bagi dirinya).

Memang suatu perkembangan yang aneh, patriotisme membuat seorang mahluk yang berpikir menjadi mesin yang terprogram. Untuk membenarkan hukuman yang dijatuhkannya kepada Buwalda, Funston memberi tahu orang Amerika bahwa tindakan serdadu itu adalah « tindakan kriminal yang serius yang sama beratnya dengan pengkhianatan . » Apakah tindakan tersebut? William Buwalda adalah salah satu dari seribu lima ratus orang yang menghadiri sebuah pertemuan di San Fransisco, dan dia berjabat tangan dengan orator Emma Goldman.

Buwalda telah memberikan hidup dan kejantanannya bagi negaranya. Tetapi semua itu tidak ada artinya. Patriotisme, seperti monster yang tak pernah kenyang, menghendaki semuanya. Patriotisme tidak mengakui bahwa seorang serdadu itu juga adalah seorang manusia, yang mempunyai perasaan dan opininya sendiri, kesukaan dan pahamnya. Tidak, patriotisme tidak dapat mengakui itu. Hal itu adalah pengalaman yang harus dipelajari oleh Buwalda; pelajaran yang mahal. Kalau dia sudah dibebaskan, dia akan kehilangan kerjanya di militer tetapi dia akan memperoleh kembali harga dirinya. Setelah usai, kebebasan itu memang berharga ’tiga tahun penjara.’

Seorang penulis mengenai kondisi militer Amerika, dalam sebuah artikel baru-baru ini , memberikan komentar tentang kekuasaan yang dipunyai seorang pemimpin militer atas masyarakat sipil di Jerman. Penulis itu berkata bahwa Republik kita (Amerika) tidak mempunyai arti lain, tetapi hanya untuk menjamin hak yang sama bagi semua orang; dan itu membenarkan keberadaannya.

Saya yakin bahwa penulis itu tidak berada di Colorado semasa rezim patriotik Jenderal Bell. Dia mungkin akan menukar pikirannya, kalau dia menyaksikan bagaimana orang-orang dilempar ke dalam kandang kerbau, diseksa dan diperlakukan dengan tindakan-tindakan yang merendahkan; semuanya dilakukan dalam nama patriotisme dan republik (Amerika). Kejadian di Colorado hanyalah sebuah contoh bukti perkembangan militer di Amerika. Jika ada pemogokan, jarang sekali tentara dan anggota militia tidak dikerahkan untuk melindungi mereka yang berkuasa; dan jarang sekali mereka tidak bertindak brutal dan sombong seperti orang-orang yang memakai seragam Kaiser.

Suatu kemalangan bagi penulis-penulis di negara ini adalah mereka sama sekali tidak tahu mengenai hal-hal yang baru terjadi (current affairs) atau mereka tidak mempunyai kejujuran untuk memberitakan apa yang terjadi. Penulis kita itu menyatakan bahwa militer tidak akan menjadi kekuatan di Amerika seperti di luar negeri, karena pendaftaran militer adalah sukarela, bukannya keharusan seperti di negara -negara lain. Tetapi penulis ini lupa mempertimbangkan dua fakta yang sangat penting. Pertama, wajib militer di Eropa telah menimbulkan kebencian terhadap militer oleh seluruh kelas-kelas masyarakat. Beribu-ribu rekrut baru mendafatar dengan terpaksa, dan setelah mereka berada di barak, mereka akan berusaha sekuat tenaga untuk meninggalkannya. Kedua, wajib militer lah yang telah menimbulkan gerakan-gerakan anti militer yang kuat, yang merupakan kekuatan yang paling ditakuti oleh pemerintah-pemerintah di Eropa. Gerakan dan sentimen anti militarisme dianggap sebagai ancaman bagi pemerintah (kapitalis) karena benteng yang melindungi dan memperkuat kapitalisme adalah militarisme. Pada saat militarisme dikalahkan, kapitalisme akan hancur.

Memang betul bahwa tidak ada wajib milliter di negara kita, pemuda/i kita tidak dipaksa untuk menjadi tentara, tetapi ada paksaan yang lebih hebat: mereka yang masuk dalam militer berbuat demikian karena kebutuhan. Bukankah suatu fakta bahawa dalam depresi industrial, pendafatran masuk militer meningkat dengan drastis? Karir dalam militer bukan hanya menarik dan dihargai, tetapi juga lebih baik daripada susah-susah mencari pekerjaan, antri roti atau tidur di tempat-tempat amal. Karir tersebut setidak-tidaknya memberikan tiga belas dolar sebulan, tiga kali makan setiap harinya dan tempat untuk tidur. Tetapi bagi mereka yang mempunyai harga diri dan prinsip, kebutuhan bukanlah alasan untuk masuk militer. Kita tidak perlu heran kalau otoritas militer menyatakan bahwa materi orang-orang yang mendaftar belakangan ini berkualitas buruk. Pernyataan ini adalah tanda yang baik. Artinya rata-rata orang Amerika masih mempunyai sifat mandiri, cinta kebebasan dan berani menanggung resiko kelaparan daripada memakai seragam.

Orang-orang bijak di seluruh dunia mulai sadar bahwa patriotisme adalah sebuah konsep yang picik dan terlalu sempit untuk memenuhi kebutuhan zaman sekarang. Sentralisasi kekuasaan telah menimbulkan solidaritas internasional antara mereka yang tertindas; solidaritas anatara kaum buruh di Amerika dan diluar negeri; solidaritas yang tidak perlu takut dengan serangan dari luar, karena kaum buruh akan membuat pernyataan kepada majikan mereka, »kalau anda mahu membunuh silahkan lakukan pembunuhan tersebut sendiri, kami telah melakukannya untuk anda untuk cukup lama. »

Solidaritas itu juga telah menyadarkan tentara-tentara bahwa mereka semua adalah bagian dari umat manusia. Contohnya, tentara-tentara Paris menolak menjalankan perintah untuk membunuh saudara-saudara mereka dalam revolusi ’Commune 1871.’ Solidaritas tersebut juga telah memberikan keberanian kepada tentara angkatan laut Rusia untuk berontak dalam kapal perang mereka. Solidaritas akhirnya akan mempersatukan kaum tertindas untuk melawan penindas mereka. Kaum proletar Eropa telah sadar dengan kekuatan dashyat solidaritas, dan karena itu telah menyatakan perang terhadap patriotisme dan militarisme. Beribu-ribu orang memenuhi penjara-penjara di Prancis, Jerman, Rusia dan Scandinavia karena mereka berani melawan tahkyul kuno tersebut (patriotisme). Gerakan ini juga tidak hanya terbatas dengan kaum buruh, tetapi juga seniman, sastrawan/ita dan ahli tehnik.

Amerika harus mengikuti gerakan solidaritas tersebut. Mentalitas militer telah tertanam dalam kehidupan sehari-hari orang Amerika. Saya percaya bahwa militarisme sangat berbahaya karena mereka didukung kaum kapitalisme (sebaliknya kaum kapitalis sangat membutuhkan mereka untuk menjaga kepentingan mereka).

Institusi yang paling dahulu diracuni dengan mentalisme militarisme tersebut adalah sekolah. Pemerintah mempunyai konsep , »Berilah seorang anak itu kepada saya dan saya akan mengajarnya menjadi ’orang.’ Anak-anak diajari taktik militer, perjuangan militer diagung-agungkan dalam kurikulum pendidikan dan pikiran anak-anak itu dibentuk supaya sesuai dengan tujuan negara. Pikiran anak-anak yang masih ’murni’ tersebut dibanjiri dengan moralitas patriotisme. Kaum pekerja Amerika telah banyak menderita di tangan tentara, dan kejijikannya terhadap parasit berseragam itu memang beralasan kuat. Tetapi kebencian saja tidak dapat menyelesaikan masalah tersebut. Yang kita perlukan adalah pendidikan propaganda untuk tentara-tentara; bacaan-bacaan anti patriotik yang akan menyadarkan mereka akan keburukan ’pekerjaannya’ itu dan yang akan menyadarkan mereka akan hubungan yang sebenarnya antara mereka dan kaum pekerja yang dengan hasil kerjanya menghidupi mereka. Tepatnya inilah yang paling ditakuti oleh pemerintah. Bagi seorang tentara, sekedar menghadiri pertemuan yang radikal saja sudah dianggap sebagai pengkhianatan, apalagi kalau dia membaca pustaka radikal. Tetapi bukankah merupakan sifat pemerintah yang selalu mengecap segalanya yang berbau kemajuan sebagai khianat/subversif ? Bagi mereka yang berjuang untuk mengubah keadaan sosial mustilah bersedia untuk menghadapi semua itu; karena mungkin lebih penting untuk menyebarkan kebenaran di dalam barak daripada di dalam pabrik. Kalau kita dapat mengabaikan patriotisme, kita telah membuka jalan menuju masyarakat yang bebas dimana semua nationalitas berada di bawah naungan persaudaraan universal.

IMORALITAS NEGARA (Mikhail Bakunin)

IMORALITAS NEGARA (Mikhail Bakunin)
Lundi 10 novembre 2003
Kita dapat berasumsi bahwa pembentukan sebuah negara akan mem-provokasi pembentukan negara-negara lain. Hal ini adalah logika karena individu-individu yang berada di luar negara tersebut merasa terancam dan mereka akan berkelompok demi keamanan mereka. Akibatnya manusia telah terpecah belah menjadi banyak negara (kelompok) dan manusia menjadi asing dan ganas terhadap sesamanya.

Dengan perpecahan tersebut, manusia tidak mempunyai hak umum dan kontrak sosial di antara mereka, jikalau hak dan kontrak tersebut ada, negara-negara tersebut akan lenyap dan menjadi anggota federasi dalam suatu negara besar. Keculai negara (maha) besar ini ’merangkul’ seluruh umat manusia, negara ini kan mengundang permusuhan dengan negara lainnya. Kalau kondisinya seperti itu, perang akan menjadi hukum dan kebutuhan hidup umat manusia.

IMORALITAS NEGARA (Mikhail Bakunin)

Lundi 10 novembre 2003 Kita dapat berasumsi bahwa pembentukan sebuah negara akan mem-provokasi pembentukan negara-negara lain. Hal ini adalah logika karena individu-individu yang berada di luar negara tersebut merasa terancam dan mereka akan berkelompok demi keamanan mereka. Akibatnya manusia telah terpecah belah menjadi banyak negara (kelompok) dan manusia menjadi asing dan ganas terhadap sesamanya.

Dengan perpecahan tersebut, manusia tidak mempunyai hak umum dan kontrak sosial di antara mereka, jikalau hak dan kontrak tersebut ada, negara-negara tersebut akan lenyap dan menjadi anggota federasi dalam suatu negara besar. Keculai negara (maha) besar ini ’merangkul’ seluruh umat manusia, negara ini kan mengundang permusuhan dengan negara lainnya. Kalau kondisinya seperti itu, perang akan menjadi hukum dan kebutuhan hidup umat manusia.

Setiap negara, apakah negara itu mempunyai karakter federasi atau non federasi, mempunyai keharusan untuk melahap negara lain, supaya ia tidak dilahap, memperbudak supaya tidak diperbudak dan menguasai supaya tidak dikuasai.

Pada hakikatnya, setiap negara itu mempunyai karakter bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Negara menghancurkan solidaritas diantara manusia dan mempersatukan sebagian manusia hanya untuk menghancurkan, menguasai dan memperbudak sebagian lain manusia. Sebuah negara hanya melindungi warga negaranya, karena negara itu tidak mengakui hak-hak orang lain diluar batas kekuasannya: dan secara prinsipil, negara ini akan memperlakukan orang asing dengan semena-mena. Kalau negara itu memperlakukan orang asing tersebut dengan manusiawi, itu bukan karena kewajibannya: karena negara itu tidak mempunyai kewajiban kepada siapa pun, tetapi kepada ’dirinya’ sendiri dan warga negaranya, yang telah membentuknya.

Secara prinsipil, hukum internasional tidak dapat diterapkan tanpa meng-kontradiksi dasar kekuasaan negara yang absolut: bahwa sebuah negara tidak mempunyai kewajiban terhadap orang asing. Kalau negara itu memperlakukan populasi yang dijajahnya secara manusiawi, karena ia memperhitungkan konsekuensi politik atas tindakannya, dan tidak pernah karena kewajibannya -karena ia mempunyai hak yang absolut untuk memperlakukan orang asing semau- maunya.

Sekarang kita dapat melihat kontradiksi antara nilai-nilai kemanusiaan dan prinsip kekuasaan negara dengan jelas sekali. Dalam sebuah negara, kekosongan nilai-nilai kemanusiaan dan moralitas diisi dengan sebuah konsep, yaitu, ’patriotisme ». Patriotisme dapat kita kategorikan sebagai moralitas yang transenden, karena patriotisme adalah suatu moralitas yang tidak dapat dijelaskan dengan logika dan rationalitas. Umpamanya, merampok, menjajah, membunuh, bagi seseorang yang bermoral adalah suatu tindakan kriminal yang ganas, tetapi mungkin dilakukan oleh seorang patriotik.

Dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari, dan dari sudut pandang patriotisme, kalau tindakan-tindakan tersebut dilakukan untuk membawa kebesaran bagi suatu negara dan untuk memperbesar kekuasaan negara tersebut, semuanya adalah merupakan kewajiban warga negara dan kelakuan yang terpuji. Setiap orang akan dipastikan berbuat demikian tidak hanya terhadap orang asing tetapi juga terhadap orang sebangsanya (umpamanya membunuh pengkhianat bangsa) jikalau negara membutuhkannya untuk bertindak demikian.

Tujuan mutlak bagi setiap negara adalah untuk memperjuangkan keberadannya dengan segala cara. Semua negara, sejak dibentuk di muka bumi ini akan berjuang untuk selamanya (selama negara itu masih berada) -berjuang melawan warga negaranya sendiri yang telah ia aniaya dan hancurkan, berjuang melawan semua kekuatan asing. Setiap negara hanya bisa kuat kalau yang lain lemah -akibatnya negara tidak dapat meneruskan perjuangannya kecuali negara tersebut terus menambah kekuatannya -untuk melawan warga negaranya dan negara-negara lain.

Kesimpulannya prinsip kedaulatan suatu negara adalah penambahan kekuatan yang akan menyebabkan penyekatan kebebasan internal bagi warga negara dalam negara itu dan penyelewengan keadilan di luar kekuasaan negara.

Penjelasam di atas adalah gambaran moral dan tujuan suatu negara. Cara apapun yang dapat mencapai tujuan suatu negara, dianggap benar dan terpuji. Negara adalah suatu institusi yang mempunyai tujuan mutlak untuk memperjuangkan kedaulatannya selamanya, semua orang harus tunduk dan melayani kepentingan negara tersebut. Tindakan-tindakan yang menghambat tujuan suatu negara, dianggap kriminal. Moralitas suatu negara adalah kebalikan dari keadilan dan nilai-nilai krmanusiaan.

Setiap saat penyelenggara negara, dalam menjalankan fungsi kenegaraan dan mempertahankan institusi negara, dihadapkan kepada alternatif-alternatif yang amoral , hanya ada satu jalan -bertindak secara munafik. Institusi negara bercakap dan sepertinya berbuat dalam nama kemanusiaan, tetapi institusi ini melanggar nilai- nilai kemanusiaan setiap hari. Tetapi kita tidak dapat menyalahkan negara mengenai kecacatan karakternya itu. Institusi negara tidak bisa berbuat sebaliknya, posisi negara mengharuskannya untuk menjadi munafik- diplomasi tidak mempunyai maksud yang lain.

Jadi, apa yang kita lihat? Setiap negara yang ingin berperang dengan negara lain, akan mulai dengan menyebarkan manifesto kepada warga negaranya dan ke seluruh dunia. Dalam manifesto itu, negara tersebut akan mengumumkan bahwa kebenaran dan keadilan berada di sisinya, dan perang tersebut dilandasi cinta dengan kemanusiaan dan kedamaian, dibubuhi sentimen-sentimen kedamaian yang royal. Negara itu juga akan menyatakan kebenciannya terhadap kemenagan materi dan menyatakan perang itu bukan untuk menambah kekuasaan (dan perang akan diberhentikan secepat-cepatnya, kalau keadilan sudah diraih). Musuh negara itu juga akan memberikan pernyataan yang sama.

Manifesto-manifesto yang berlawanan antara kedua negara tersebut ditulis sama halusnya, mengandung kandungan moralitas dan bobot ketulusan yang sama; dengan kata lain, kedua-dua manifesto itu adalah jelas-jelas bohong. Orang-orang yang berakal sehat, mereka yang mempunyai pengalaman dalam politik, tidak akan membuang waktu membaca manifesto-manifesto itu, hanya orang tolol yang akan mempercayainya. Sebaliknya, mereka akan menyelidiki faktor-faktor yang mendorong kedua-dua negara tersebut untuk berperang, dan mengira-nira kekuatan kedua-dua pihak dan menebak siapa yang akan menang. Ini membuktikan bahwa perang seperti itu tidak mempunyai bobot moral.

Perjanjian-perjanjian (protokol) internasional yang mengatur hubungan antara negara-negara di dunia, tidak mempunyai sangsi moral yang berarti. Dalam setiap babak sejarah, perjanjian.protokol tersebut merupakan ekpresi keseimbangan (equilibrium) kekuatan antara negara-negara, dan konsekuensi dari pada ketegangan antar negara. Selagi negara-negara masih ada, kedamaian tak akan tercapai. Hanya ada perdamaian temporer; jikalau sebuah negara merasa cukup kuat untuk menghancurkan keseimbangan tersebut untuk keuntungannya, negara itu tidak akan gagal menggunakan kesempatan ini. Sejarah manusia telah membuktikan pernyataan di atas.

Ini menjelaskan kepada kita mengapa sejak sejarah dimulai, sejak negara mulai dibentuk, dunia politik menjadi pentas penipuan dan perampokan -penipuan dan perampokan yang terpuji karena dilakukan atas nama patriotisme, moralitas transenden. Ini menjelaskan mengapa seluruh sejarah negara kuno dan moderen, tidaklah lebih dari rentetan tindakan kriminal yang memuakan; mengapa raja-raja, dan seluruh aparatus negara (menteri, diplomat, birokrat dan pahlawan) kalau diadili dari sudut pandang moralitas yang sebenarnya, patut dihukum seberat-beratnya.

Tidak ada satupun dari tindakan-tindakan seperti, teror, kekejaman, penipuan dan perampokan, yang tak pernah dilakukan oleh aparatus negara (dan sampai sekarang masih terus dilakukan), dengan alasan tidak lain dari « alasan kenegaraan ». Pada saat institusi negara mengeluarkan « suara », semua bungkam,: harga diri, kejujuran, keadilan, hak asasi dan belas kasih, hilang, bersama dengan logika dan akal sehat; hitam jadi putih dan sebaliknya; kejahatan dan tindakan kriminal yang ganas dianggap sebagai perbuatan yang terpuji.

KOMUNISME LIBERTARIAN

KOMUNISME LIBERTARIAN
(vers un communisme libertaire)

mardi 10 février 2004

Dari semua buku yang aku baca, di tahun 1930, diatas kapal yang membawaku ke Indocina, buku yang berderet dari Marx hingga Proudhon, Georges Sorel, hingga Hubert Lagardelle, Fernand Pelloutier, Lenin dan Trotsky, buku-buku karya Marx-lah yang tanpa diragukan menghasilkan dampak paling besar pada diriku. Buku-buku ini membuka mataku, menyingkap misteri nilai-lebih sistem kapitalis, mengajariku tentang dialektika dan materialisme historis. Sejak saat itu, aku memasuki gerakan revolusioner, membuang kelaut semua pemikiran borjuisku. Aku sejak dari awal, secara insting anti-Stalinis; pada saat itu aku seorang sosialis kiri yang mengambil pendirian disekitar Marceau Pivert dan seorang sindikalis revolusioner dibawah pengaruh Pierre Monatte. Dikemudian hari, tulisan-tulisan Bakunin, dalam enam-volume edisi terbitan Max Nettlau/James Guillaume, jadi semacam operasi katarak yang kedua bagi diriku. Tulisan-tulisan ini meninggalkan bekas selamanya dalam diriku yang menjadi alergi dengan setiap versi sosialisme yang otoriter, apakah mereka menyebut diri Jacobin, Marxis atau Trotskyis.

Adalah dibawah kegemparan yang dilakukan pada diriku oleh tulisan-tulisan ini (Bakunin) yang menuntun aku secara mendasar mengubah penghargaanku terhadap strategi revolusioner yang dikembangkan Lenin, mengkaji ulang (pandanganku sendiri) akan idolaku ini dan meneruskannya dengan sebuah kritik mendalam terhadap konsepsi otoriter tertentu dari pemimpin Bolshevik tersebut. Aku menyimpulkan, dari perdebatan internal, bahwa sosialisme mesti membersihkan diri dari gagasan kediktatoran proletariat yang melelahkan, agar dapat mengembalikan sifat pembebasannya yang otentik.

KOMUNISME LIBERTARIAN

(vers un communisme libertaire)

mardi 10 février 2004

Dari semua buku yang aku baca, di tahun 1930, diatas kapal yang membawaku ke Indocina, buku yang berderet dari Marx hingga Proudhon, Georges Sorel, hingga Hubert Lagardelle, Fernand Pelloutier, Lenin dan Trotsky, buku-buku karya Marx-lah yang tanpa diragukan menghasilkan dampak paling besar pada diriku. Buku-buku ini membuka mataku, menyingkap misteri nilai-lebih sistem kapitalis, mengajariku tentang dialektika dan materialisme historis. Sejak saat itu, aku memasuki gerakan revolusioner, membuang kelaut semua pemikiran borjuisku. Aku sejak dari awal, secara insting anti-Stalinis; pada saat itu aku seorang sosialis kiri yang mengambil pendirian disekitar Marceau Pivert dan seorang sindikalis revolusioner dibawah pengaruh Pierre Monatte. Dikemudian hari, tulisan-tulisan Bakunin, dalam enam-volume edisi terbitan Max Nettlau/James Guillaume, jadi semacam operasi katarak yang kedua bagi diriku. Tulisan-tulisan ini meninggalkan bekas selamanya dalam diriku yang menjadi alergi dengan setiap versi sosialisme yang otoriter, apakah mereka menyebut diri Jacobin, Marxis atau Trotskyis.

Adalah dibawah kegemparan yang dilakukan pada diriku oleh tulisan-tulisan ini (Bakunin) yang menuntun aku secara mendasar mengubah penghargaanku terhadap strategi revolusioner yang dikembangkan Lenin, mengkaji ulang (pandanganku sendiri) akan idolaku ini dan meneruskannya dengan sebuah kritik mendalam terhadap konsepsi otoriter tertentu dari pemimpin Bolshevik tersebut. Aku menyimpulkan, dari perdebatan internal, bahwa sosialisme mesti membersihkan diri dari gagasan kediktatoran proletariat yang melelahkan, agar dapat mengembalikan sifat pembebasannya yang otentik.

Luxembourg vs Lenin

Inilah yang menuntunku, dalam kerja kesejarahan atas Revolusi Perancis, mengganti semua paksaan revolusioner dengan kata kediktatoran. Menyusul langkah ini, aku memberi perhatian lebih pada proses pengimbangan yang sangat cepat yang dilakukan Rosa Luxembourg terhadap pendirian Lenin yang ultra-sentralis dan karakter dari birokratik subtitusionisnya yang kering. Lebih lanjut lagi, di tahun 1971, aku memperdalam analisis tentang Luxembourgisme dan berusaha mencoba menekankan hubungannya yang relatif dengan spontanitas libertarian.

Masa ketika aku menemukan tulisan Bakunin dan membaca ulang Rosa adalah, dalam masa perjuangan kelas, pada waktu revolusi Hongaria dan penindasannya yang kejam oleh tank-tank Rusia. Aku merasa, sejauh kepedulianku, kurang tertarik dengan liku-liku perjuangan (revolusi Hongaria) untuk pembebasannya dari cengkeraman Moscow. Pada waktu itu informasi mengenai Hongaria dibebani terus menerus oleh, dibandingkan dengan (informasi mengenai) dewan pekerja yang berkemb ang sesaat di Hongaria, ambiguitas yang menjengkelkan.

Anarkisme

Libertarianisme yang kualami melewati fase-fase yang berurutan sebagai berikut: pada mulanya apa yang aku sebut sebagai anarkisme klasik , yang menemukan muara ekpresinya dalam karya Youth of Libertarian Socialism (1959), kemudian Anarchism, from Theory to Practice (1965) dan, secara bersamaan, Neither God nor Master; Anthology of Anarchism, dimana disamping Bakunin, terdapat ruang untuk menulis tentang Stirner, Proudhon, Kropotkin, Malatesta dan banyak yang lain.

Kemudian bergerak sedikit dari anarkisme klasik, dan tak meninggalkan walau sejenak studi-studi marxianku, aku mempublikasikan For a Libertarian Marxism (1969), yang dari judulnya, aku yakin, membingungkan dan mengangetkan beberapa kawan baruku dikalangan libertarian. Kemudian, beberapa waktu sebelum gelombang demostrasi revolusioner Mei 68 pecah, yang didalamnya aku terlibat sangat dalam, aku bergabung kembali dengan Libertarian Communist Movement (MCL disekitar Georges Fontenis (yang berpaling dari pandangannya yang otoritarian). Setelah itu aku bergabung bersama Libertarian Communist Organisation (OCL), dalam bentuk pertama dan yang kedua, dan kemudian hingga sekarang, Union of Libertarian Communist Workers (UTCL).

Sosialisme Libe rtarian

Selama seperempat abad, aku mengikatkan diriku, dan masih tetap, bersama sosialisme atau komunisme libertarian (kata anarkis menurut pandanganku terlalu membatasi dan aku tak mau menggunakannya kecuali jika ia digabungkan dengan kata komunis). Komu nisme libertarian berbeda, walau ia bisa digabungkan dengan, utopia yang dipropagandakan oleh mazhab Kropotkin, bisa mengantisipasi era keberlimpahan. Secara khusus, Komunisme Libertarian, sebagaimana aku memahaminya, adalah suatu kombinasi dari hal-hal yang terbaik dari anarkisme dan pemikiran Karl Marx. Aku mencoba membebaskannya – elemen yang berlainan ini dari kekusutan-kekusutan dalam pamplet yang berjudul Anarchism and Marxism yang dimasukkan kedalam edisi kedua dari buku kecil yang kutulis berjudul Anarchism (1981).

Dalam masa senja kehidupanku, aku tentu saja tak mengklaim telah meramalkan, kecuali dalam garis -garis yang sangat lebar, kritalisasi yang pasti dari sebuah sintesa yang tak tenang dan informal. H.E., Kaminski, dalam biografinya mengenai Bakunin, berpikir bahwa itu sesuatu yang perlu dan tak terelakkan, hal tersebut lebih tergantung pada masa depan untuk mengolahnya

dibandingkan saat ini. Ia harus muncul dari badai sosial yang baru yang akan muncul, dan yang tak seorangpun pada saat ini dapat menepuk dadanya bahwa merekalah yang membawanya.

Bukan Sebuah Dogma

Aku berharap aku telah, sepanjang keterlibatan militan, menjadi seorang teoritisi dan sejarawan yang memberi manfaat. Menurut pandanganku terlalu sombong untuk mengumumkan, diantara hal-hal yang lain, aspek-aspek mana dari anarkisme dan pemikiran Marx yang tersebar itu, yang tidak dapat dipertemukan. Komunisme Libertarian masih hanya perkiraan, dan bukan dogma dari kebenaran yang absolut.

Ia sama sekali tak dapat, menurutku, menjelaskan dirinya diatas kertas. Ia tak akan menjadi sebuah rasionalisasi dari masa yang telah lalu, tetapi tempat berkumpul bagi masa depan. Keyakinan utama yang menggelorakanku ialah bahwa revolusi sosial di masa depan tidak akan menjadi despotisme yang ada kaitannya dengan Moscow; tidak juga sosial-demokrasi yang loyo; bahwa ia tidak akan menjadi revolusi yang bersifat otoriter tetapi libertarian dan dikelola-mandiri, atau jika anda suka, bersifat councillis (berbasiskan komite-komite pekerja/rakyat yang otonom — penj).

Publié dans Affinitas #1

BAGAIMANA LENIN MENGGIRING PADA MUNCULNYA STALIN

BAGAIMANA LENIN MENGGIRING PADA MUNCULNYA STALIN
(Comment Lénine conduit à Staline …)

mardi 27 avril 2004

BAGI kaum kiri-jauh Leninis, ambruknya Republik Sosialis Uni Soviet telah melontarkan lebih banyak pertanyaan ketimbang yang terjawab. Kalau Uni Soviet benar-benar merupakan sebuah ’negara pekerja’, mengapa para pekerja tidak mau membelanya? Mengapa pada kenyataannya mereka menyambut hangat datangnya perubahan?

Apa yang terjadi pada « revolusi politik ataukah kontra-revolusi berdarah » -nya Trotsky? Organisasi-organisasi Leninis yang tak lagi memandang Uni Soviet sebagai negara pekerja juga belum bisa lepas dari kontradiksi-kontradiksi tersebut. Kalau memang Stalin merupakan sumber permasalahan, mengapa ada begitu banyak pekerja Rusia yang menyalahkan Lenin serta pemimpin-pemimpin Bolshevik lainnya?
Mitologi « Lenin, sang pencipta dan penopang revolusi Rusia » kini sekarat. Demikian pula yang akan terjadi pada semua kelompok Leninis karena, seiring arsip-arsip Soviet makin dibuka, akan semakin sulit untuk mempertahankan warisan Lenin. Sampai saat ini, kaum kiri di Barat telah menghindari dan memalsukan perdebatan tentang Lenin selama 60 tahun. Bagaimanapun, sekarang ini marak bermunculan artikel-artikel dan pertemuan-pertemuan oleh berbagai kelompok Trotskyis yang berusaha meyakinkan para pekerja bahwa Lenin tidak menggiring pada munculnya Stalin. Sayangnya, banyak dari perdebatan ini masih didasarkan atas fitnah dan pemalsuan-pemalsuan sejarah yang telah menjadi gejala Bolshevisme sejak 1918. Pertanyaan-pertanyaan kunci mengenai unsur-unsur apa yang membentuk Stalinisme, dan kapan « Stalinisme » pertama kali muncul dalam prakteknya, dihindari demi mempertahankan retorika dan kepalsuan sejarah

BAGAIMANA LENIN MENGGIRING PADA MUNCULNYA STALIN

(Comment Lénine conduit à Staline …)

mardi 27 avril 2004

BAGI kaum kiri-jauh Leninis, ambruknya Republik Sosialis Uni Soviet telah melontarkan lebih banyak pertanyaan ketimbang yang terjawab. Kalau Uni Soviet benar-benar merupakan sebuah ’negara pekerja’, mengapa para pekerja tidak mau membelanya? Mengapa pada kenyataannya mereka menyambut hangat datangnya perubahan? Apa yang terjadi pada « revolusi politik ataukah kontra-revolusi berdarah » -nya Trotsky? Organisasi-organisasi Leninis yang tak lagi memandang Uni Soviet sebagai negara pekerja juga belum bisa lepas dari kontradiksi-kontradiksi tersebut. Kalau memang Stalin merupakan sumber permasalahan, mengapa ada begitu banyak pekerja Rusia yang menyalahkan Lenin serta pemimpin-pemimpin Bolshevik lainnya? Mitologi « Lenin, sang pencipta dan penopang revolusi Rusia » kini sekarat. Demikian pula yang akan terjadi pada semua kelompok Leninis karena, seiring arsip-arsip Soviet makin dibuka, akan semakin sulit untuk mempertahankan warisan Lenin. Sampai saat ini, kaum kiri di Barat telah menghindari dan memalsukan perdebatan tentang Lenin selama 60 tahun. Bagaimanapun, sekarang ini marak bermunculan artikel-artikel dan pertemuan-pertemuan oleh berbagai kelompok Trotskyis yang berusaha meyakinkan para pekerja bahwa Lenin tidak menggiring pada munculnya Stalin. Sayangnya, banyak dari perdebatan ini masih didasarkan atas fitnah dan pemalsuan-pemalsuan sejarah yang telah menjadi gejala Bolshevisme sejak 1918. Pertanyaan-pertanyaan kunci mengenai unsur-unsur apa yang membentuk Stalinisme, dan kapan « Stalinisme » pertama kali muncul dalam prakteknya, dihindari demi mempertahankan retorika dan kepalsuan sejarah

Stalinisme didefinisikan oleh banyak ciri, dan sesungguhnya beberapa dari ciri-ciri ini sangat sulit ketimbang sebagian ciri lainnya untuk ditempatkan di kaki Lenin. Poin-poin panduan kebijakan luar negeri Stalin, misalnya, adalah ide tentang ko-eksistensi damai dengan Barat sembari membangun sosialisme di Republik Sosialis Uni Soviet (« sosialisme di satu negeri »). Lenin sering dipresentasikan sebagai lawan ekstrem terhadap Stalinisme seperti itu, Lenin dipresentasikan sebagai orang yang mau menempuh risiko apapun demi terwujudnya revolusi internasional. Akan tetapi, cerita ini, sebagaimana juga banyak cerita lainnya, tidaklah sepenuhnya seperti apa yang terlihat.

Poin-poin lain yang akan dianggap oleh banyak orang sebagai ciri Stalinisme mencakuppembentukan sebuah negara satu partai, tidak ada kontrol terhadap perekonomian oleh kelas pekerja, kekuasaan diktatorial individu-individu terhadap massa masyarakat, pelibasan secara brutal terhadap aksi-aksi pekerja, dan penggunaan fitnah serta penyelewengan sejarah

Sosialisme di Satu Negeri

Perjanjian Brest-Livtosk tahun 1918, yang menarik Rusia keluar dari Perang Dunia I, juga menyerahkan sebagian sangat besar wilayah Ukraina kepada bangsa Austro-Hungaria.

Jelaslah, ketika itu tidak ada potensi untuk meneruskan sebuah perang konvensional (khususnya setelah kaum Bolshevik menggunakan slogan «kedamaian, roti, tanah » untuk memenangkan dukungan massa). Namun demikian, hadirnya gerakan Makhnovis di Ukraina jelas menunjukkan sebuah potensi revolusioner yang sangat besar di kalangan petani dan pekerja Ukraina. Tidak ada upaya yang dilakukan guna mendukung atau menopang kekuatan-kekuatan yang memang berusaha untuk melakukan sebuah perang revolusioner melawan bangsa Austro-Hungaria. Mereka dikorbankan demi mendapatkan sebuah interval untuk membangun «sosialisme» di Rusia.

Poin kedua yang penting mengenai internasionalisme Lenin adalah penekanannya sejak tahun 1918 bahwa, yang menjadi tugas adalah membangun «kapitalisme negara« , misalnya dengan pernyataan «kalau kita mengintrodusir kapitalisme negara dalam masa kira-kira 6 bulan, maka kita akan mencapai keberhasilan yang besar…« . (1) Lenin juga diketahui pernah mengatakan «Sosialisme tak lain adalah monopoli-kapitalis negara yang dilakukan demi kemanfaatan seluruh rakyat« . (2) Hal ini memunculkan pertanyaan mengenai konsep Lenin tentang sosialisme.

Negara Satu Partai

Satu ciri pokok lainnya yang oleh banyak orang biasanya diasosiasikan dengan Stalinisme adalah pembentukan sebuah negara satu partai, dan pembungkaman semua arus oposisi di dalam partai. Banyak kaum Trotskyis masih akan mengatakan kepada kamu bahwa kaum Bolshevik menyemangati kaum pekerja untuk bangkit dan memperdebatkan poin-poin di masa itu, baik di dalam maupun di luar partai. Kenyataannya sangatlah berbeda, karena kaum Bolshevik segera mengawasi secara keras kekuatan-kekuatan revolusioner di luar partai, dan kemudian mengawasi ketat orang-orang di dalam partai yang gagal mengikuti garis partai.

Pada April 1918, polisi rahasia Bolshevik (Cheka) menggerebek 26 pusat Anarkis di Moskow. Empat puluh orang Anarkis dibunuh atau terluka dan lebih dari 500 orang dipenjara. (3) Pada bulan Mei, terbitan-terbitan Anarkis yang terkemuka dibredel. (4) Kedua peristiwa ini terjadi sebelum alasan meletusnya Perang Sipil bisa digunakan ( ? terhadap kelompok-kelompok kiri lainnya.?) sebagai suatu ’pembenaran’. Penggerebekan-penggerebekan ini terjadi karena kaum Bolshevik mulai kalah dalam perdebatan-perdebatan mengenai pengelolaan industri Rusia.

Di tahun 1918 itu juga, sebuah faksi di partai Bolshevik yang kritis terhadap kebijakan partai yang mengintrodusir ’Taylorisme’ (penggunaan kajian-kajian tentang keping kerja, waktu dan gerak untuk mengukur hasil masing-masing pekerja, yang pada esensinya adalah ilmu tentang ekstraksi tenaga habis-habisan) di jurnal Kommunist dipaksa keluar dari Leningrad ketika mayoritas peserta konferensi partai di Leningrad mendukung tuntutan Lenin «agar para penggiat Kommunist menghentikan eksistensi organisasional mereka yang terpisah-pisah« . (5)

Jurnal ini terbit terakhir kali pada bulan Mei, dibungkam «Bukan dengan diskusi, bujukan ataupun kompromi, melainkan dengan suatu kampanye bertekanan tinggi di dalam organisasi-organisasi partai, yang didukung oleh serangan caci-maki kasar di pers partai…« . (6) Dahsyatnya kalau dikatakan mendorong perdebatan!! Satu contoh lebih jauh tentang ’mendorong perdebatan’ ala Bolshevik terlihat dalam perlakuan mereka terhadap Makhnovis di Ukraina. Tentara partisan yang berperang melawan baik kaum nasionalis Ukraina maupun para jenderal Putih pada satu masa membebaskan lebih dari 7 juta orang. Ini dipimpin oleh seorang anarkis, Nestor Mhakno, dan anarkisme memainkan peran besar dalam ideologi gerakan ini. Zona yang dibebaskan ini dikelola oleh sebuah soviet demokratik pekerja dan petani, dan banyak kolektif didirikan.

Gema Spanyol

Kaum Makhnovis masuk ke dalam perjanjian dengan kaum Bolshevik tiga kali agar bisa mempertahankan sebuah front yang kuat untuk melawan kaum Putih dan kaum nasionalis. Kendati demikian, mereka juga tiga kali dikhianati oleh kaum Bolshevik, dan pada kali ketiga mereka pun dihancurkan setelah kaum Bolshevik menangkap dan mengeksekusi semua delegasi yang dikirim ke sebuah dewan militer bersama. Penangkapan dan pembunuhan ini dilakukan atas instruksi Trotsky!

Uraian Daniel Guerin tentang sepak-terjang Trotsky terhadap kaum Makhnovis adalah instruktif «Trotsky menolak untuk memberikan senjata kepada para partisan Makhno, mengabaikan tugasnya untuk membantu mereka, dan kemudian menuduh mereka berkhianat serta sengaja membiarkan diri mereka dipukul oleh pasukan putih. Prosedur yang sama 18 tahun kemudian diikuti oleh kaum Stalinis Spanyol terhadap brigade-brigade anarkis« . (7)

Sumbat final diterapkan pada kehidupan politik di luar ataupun di dalam partai pada tahun 1921. Kongres partai pada 1921 melarang semua faksi di dalam partai komunis itu sendiri. Trotsky berpidato mengecam salah satu faksi tersebut, yakni Oposisi Pekerja, dengan mengatakan bahwa mereka telah «menempatkan hak pekerja untuk memilih wakil-wakil di atas partai. Seolah partai tidak berhak untuk menegaskan kediktatorannya meskipun kediktatoran itu untuk sementara waktu berbenturan dengan semangat demokrasi pekerja yang sedang berlangsung« . (8) Tak lama setelah itu, pemberontakan Kronstadt digunakan untuk membuang, memenjarakan dan mengeksekusi kaum anarkis yang tersisa. Lama sebelum matinya Lenin, warisan politik yang kini dibebankan kesalahannya pada Stalin telah tersempurnakan. Perbedaan pendapat telah dibungkam di dalam dan di luar partai. Negara satu partai berdiri pada tahun 1921. Stalin mungkin memang merupakan tokoh pertama yang mengeksekusi anggota-anggota partai dalam skala sangat besar, namun dengan adanya eksekusi orang-orang revolusioner di luar partai serta pembungkaman perdebatan di dalam partai sejak tahun 1918, maka logika untuk pembersihan-pembersihan ini jelas sudah tertanam sebelumnya.

Kelas Pekerja Di Bawah Kekuasaan Lenin

Satu wilayah kunci lainnya adalah posisi kelas pekerja dalam masyarakat Stalinis. Tidak ada kaum Trotskyis yang akan menyangkal bahwa di bawah kekuasaan Stalin, kaum pekerja tidak punya hak suara dalam pengelolaan tempat kerja mereka dan mengalami kondisi-kondisi yang kejam di bawah ancaman tangan besi negara. Namun demikian, sekali lagi, kondisi-kondisi ini mulai muncul di bawah kekuasaan Lenin, dan bukan Stalin. Segera setelah revolusi, kaum pekerja Rusia berusaha mem-federasi-kan komite-komite pabrik agar bisa memaksimalkan distribusi sumberdaya. Ini dihambat oleh serikat-serikat buruh dengan ’arahan’ dari Bolshevik.

Di awal 1918, basis kontrol oleh pekerja yang terbatas, yang ditawarkan oleh kaum Bolshevik (pada kenyataannya lebih sedikit lagi ketimbang yang diperhitungkan), menjadi jelas ketika semua keputusan harus disetujui oleh sebuah badan tinggi yang mana tak lebih dari 50% keanggotaannya bisa diisi oleh pekerja. Daniel Guerin menguraikan bagaimana kontrol Bolshevik terhadap proses pemilihan di pabrik-pabrik: « pemilihan-pemilihan untuk memilih komite-komite pabrik terus berlangsung, tetapi satu anggota sel Komunis membacakan daftar kandidat yang telah ditentukan sebelumnya, dan pemungutan suara dilakukan dengan cara mengacungkan tangan di tengah kehadiran garda-garda ’Komunis’ bersenjata. Siapapun yang menyatakan oposisinya terhadap kandidat-kandidat yang diajukan, akan terkena pemotongan upah, dll. » (9)

Pada 26 Maret 1918, kontrol oleh pekerja di proyek-proyek pembangunan jalan kereta api dihapuskan dengan sebuah dekrit yang penuh dengan frasa-frasa menjengkelkan yang menekankan «disiplin kerja besi» dan manajemen individu. Sekurangnya, kata para pengikut Trotsky, jalan-jalan kereta api bisa beroperasi tepat pada waktunya. Di bulan April Lenin menerbitkan sebuah artikel di Isvestiya yang mencantumkan pengenalan sebuah sistem kartu untuk mengukur produktivitas masing-masing pekerja. Dia mengatakan «… di Rusia kita harus mengorganisir pengkajian dan pengajaran sistem Talyor. » « Kepatuhan total terhadap suatu kehendak tunggal mutlak diperlukan untuk keberhasilan proses kerja…revolusi menuntut, demi kepentingan sosialisme, bahwa massa tanpa mempertanyakan lagi mematuhi kehendak tunggal para pemimpin proses kerja itu, » (10) demikian dinyatakan Lenin pada 1918. Ini terjadi sebelum meletusnya Perang Sipil, hal mana membuat klaim-klaim yang menyatakan bahwa, kaum Bolshevik pada waktu itu berusaha memaksimalkan kontrol oleh pekerja sebelum Perang Sipil menghambat usaha itu, menjadi sekadar omong kosong.

Dengan meletusnya Perang Sipil, kondisi menjadi jauh lebih buruk. Di akhir bulan Mei, dikeluarkan dekrit bahwa tak lebih dari 1/3 personalia manajemen di perusahaan-perusahaan industri yang perlu dipilih. (11) Beberapa «puncak momentum» di tahun-tahun berikutnya cukup penting untuk dikemukakan. Pada kongres ke-9 partai di bulan April 1920, Trotsky mengeluarkan komentarnya yang buruk tentang militerisasi kerja : « kelas pekerja… harus dilemparkan kesana-kemari, ditunjuk, diperintah persis seperti serdadu. Para disertir dari kerja harus ditempa di dalam batalyon-batalyon penghukuman atau dimasukkan ke kamp-kamp konsentrasi. » (12) kongres itu sendiri mendeklarasikan: «tidak ada kelompok serikat buruh yang perlu secara langsung campur tangan dalam manajemen industri. » (13)

Manajemen Satu Orang

Pada kongres serikat buruh di bulan April itu, Lenin membual betapa pada tahun 1918 dia telah «  menjelaskan perlunya mengakui otoritas diktatorial individu-individu tunggal demi tujuan melaksanakan ide soviet. » (14) Trotsky menyatakan bahwa «kerja… wajib bagi seluruh pelosok negeri, kewajiban bagi setiap pekerja adalah basis sosialisme  » (15) dan bahwa militerisasi kerja bukanlah langkah darurat. (16)

Dalam buku Perang, Komunisme dan Terorisme yang diterbitkan oleh Trotsky pada tahun itu, dia mengatakan, «Serikat -serikat hendaknya mendisiplinkan para pekerja dan mengajari mereka untuk menempatkan kepentingan-kepentingan produksi di atas kebutuhan-kebutuhan dan tuntutan-tuntutan mereka sendiri.« 

Dengan demikian, mustahillah untuk membedakan antara kebijakan-kebijakan ini dengan kebijakan-kebijakan kerja di masa kekuasaan Stalin.

Pemberontakan Pekerja

Barangkali kecaman yang paling pedas terhadap rezim-rezim Stalinis muncul setelah mereka melakukan pelibasan terhadap pemberontakan-pemberontakan pekerja, baik yang diketahui secara luas seperti di Berlin Timur pada 1953, di Hungaria pada 1956 dan di Cekoslovakia pada 1968 maupun yang skalanya lebih kecil, pemberontakan-pemberontakan yang kurang dikenal. Pemberontakan besar yang pertama seperti itu terjadi di masa kekuasaan Lenin dikarenakan adanya intimidasi berskala besar pada tahun 1921 di Kronstadt, sebuah pangkalan angkatan laut dan kota kecil dekat Petrograd.

Pemberontakan ini secara esensial terjadi ketika Kronstadt berupaya untuk secara demokratis memilih sebuah soviet, dan mengeluarkan serangkaian pernyataan yang menyerukan untuk kembali ke soviet-soviet yang demokratis serta kebebasan pers dan kebebasan bicara bagi partai-partai sosialis kiri. » (17)

Upaya ini memenangkan dukungan bukan hanya dari massa pekerja dan pelaut di pangkalan itu, melainkan juga dari sebagian jajaran di partai Bolshevik. Respon kaum Leninis ketika itu brutal. Pangkalan Kronstadt digempur, dan banyak dari para pemberontak yang gagal melarikan diri dieksekusi. Kronstadt telah menjadi kekuatan penggerak untuk revolusi tahun 1917, dan pada 1921 revolusi mati bersama matinya Kronstadt.

Ada ciri-ciri lain yang lazim diterima sebagai karakter Stalinisme. Satu lagi yang cukup penting untuk diperhatikan adalah cara fitnah yang telah digunakan oleh organisasi-organisasi Stalinis sebagai senjata untuk melawan kelompok-kelompok kiri lainnya. Satu lagi yang lain adalah cara Stalin menulis ulang sejarah. Namun demikian, sekali lagi ini adalah turunan mendalam dari Leninisme. Mhakno, misalnya, diubah dari semula dielu-elukan oleh koran-koran Bolshevik sebagai «Sang Pembalas Kaum Putih  » (18), kemudian digambarkan sebagai seorang Kulak dan bandit.

Fitnah

Kaum Trotskyis di masa modern sekarang senang sekali mengulangi bentuk fitnah ini dengan disertai penggambaran Mhakno sebagai seorang yang anti-Semit. Namun demikian, sejarawan Yahudi, M. Tchernikover, mengatakan: «Tak bisa dipungkiri bahwa, di antara semua tentara, termasuk Tentara Merah, kaum Makhnovis-lah yang berlaku paling baik terhadap penduduk sipil pada umumnya, dan penduduk Yahudi pada khususnya.  » (19)

Kepemimpinan kaum Makhnovis berisikan orang-orang Yahudi, dan bagi mereka yang ingin berorganisasi dengan cara ini, ada detasemen-detasemen yang khusus untuk orang Yahudi. Peran yang dimainkan oleh kaum Makhnovis dalam menaklukkan kaum putih telah dihapuskan dari sejarah oleh setiap sejarawan Troskyis, tetapi beberapa sejarawan lain menganggap bahwa kaum Makhnovis memainkan peran yang jauh lebih menentukan ketimbang Tentara Merah dalam mengalahkan Wrangel. (20)

Kronstadt memberikan satu contoh lagi mengenai bagaimana Lenin dan Trotsky menggunakan fitnah untuk menghadapi musuh-musuh politiknya. Keduanya berupaya menggambarkan pemberontakan tersebut sebagai diorganisir dan dipimpin oleh kaum putih. Pravda edisi 3 Maret 1921 menggambarkan pemberontakan Kronstadt sebagai «Sebuah skenario baru kaum Putih…. yang diperkirakan-dan tak ragu lagi memang disiapkan-oleh kaum kontra-revolusi Perancis.  » Lenin, dalam laporannya kepada Kongres ke-10 Partai pada tanggal 8 Maret, mengatakan, «Para jendral Putih, kalian semua tahu, memainkan peran besar dalam hal ini. Ini sepenuhnya terbukti.  » (21)

Namun demikian, bahkan Isaac Deutscher, penulis biografi Trotsky, mengatakan dalam The Prophet Armed: «Kaum Bolshevik menuduh orang-orang Kronstadt sebagai para pendurhaka kontra-revolusioner yang dipimpin oleh seorang jendral Putih. Tuduhan ini nampak tak berdasar.  » (22)

Menulis Ulang Sejarah

Beberapa orang Trotskyis di era modern ini mengulangi cara-cara memfitnah orang lain, misalnya Brian Pearce (sejarawan Liga Buruh Sosialis di Inggris) yang berusaha menyangkal bahwa hal seperti itu pernah terjadi: «Tidak ada pretensi yang dibuat dalam pernyataan bahwa para pendurhaka Kronstadt adalah Garda Putih.  » (23) Fakta sesungguhnya menunjukkan bahwa, satu-satunya jendral Tsaris yang ada di kubu pertahanan ditempatkan di sana sebagai komandan oleh Trotsky beberapa bulan sebelumnya! Biarlah kita serahkan kata-kata terakhir tentang hal ini kepada para pekerja Kronstadt: «Kawan-kawan, jangan biarkan dirimu disesatkan. Di Kronstadt, kekuasaan ada di tangan para pelaut, serdadu merah dan para pekerja revolusioner.  » (24)

Ada ironi dalam fakta bahwa taktik-taktik fitnah dan menulis ulang sejarah, sebagaimana yang dilakukan secara sempurna oleh kaum Bolshevik di bawah kepemimpinan Lenin, kemudian digunakan dengan efek serupa terhadap kaum Trotskyis. Trotsky dan para pengikutnya dituduh sebagai «Fasis» dan agen imperialisme internasional. Mereka hendak dicoret dari sejarah revolusi. Kendati demikian, sekarang ini para pengikut Trotsky, yakni kaum Leninis terakhir yang tersisa, menggunakan taktik-taktik yang sama dalam menghadapi lawan-lawan politiknya.

Maksud dari artikel ini adalah untuk memancing banyak perdebatan yang diperlukan di kalangan kiri Irlandia tentang watak Leninisme dan bagaimana revolusia berjalan ke arah yang buruk. Konteks ambruknya Eropa Timur membuat semakin mendesak saja bagi perdebatan ini untuk bergerak melampaui kebohongan-kebohongan lama yang itu-itu juga. Kalau Leninisme terletak di jantung Stalinisme, maka organisasi-organisasi yang menganut ajaran Lenin berdiri untuk kembali membuat kesalahan-kesalahan yang sama. Siapapun dalam sebuah organisasi Leninis yang tidak menanggapi hal ini secara serius berarti persis sama buta dan tersesatnya dengan semua anggota partai komunis yang menganggap bahwa Uni Soviet merupakan sebuah negeri sosialis sampai hari kejatuhannya.

Affinitas #1

CATATAN KAKI:


1. V.I. Lenin «Left wing childishness and petty –bourgeois mentality », h

2. V.I. Lenin «The threatening catastrophe and how to fight it », u

3. M. Brinton «The Bolsheviks and workers control» page 38,r

4. M. Brinton page 38

5. Brinton, page 39,s

6. Brinton, page 40,t

7. D. Guerin «Anarchism », page 101, r

8. Brinton, page 78,i

9. Guerin, page 91,es

10. Brinton, page 41

11. Brinton, page 43

12. Brinton, page 61, o

13. Brinton, page 63, f

14. Brinton, page 65

15.1981 for politic a,

16. I. Deutscher, «The Prophet Armed» pages 500-07

17. Ida Mett, »The Kronstadt Uprising », page 38

18. A. Berkman, «Nestor Makhno », page 25 19. quoted by Voline «The Unknown Revolution », page 572 20. P. Berland, « Makhno », Le Temps, 28 Aug, 1934 21. Lenin, Selected Works, vol IX, p. 98 22. Deutscher, The Prophet Armed, page 511 23. Labour Review, vol V, No. 3 24. I. Mett, page 51